Papua

Seleksi Fasilitator TEKAD di Papua Dinilai Cacat Prosedur, Sarat Muatan Politik – KODE Minta Hasil Dibatalkan

Jayapura – Proses seleksi fasilitator Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) di Papua menuai kecaman keras. Sejumlah laporan masyarakat yang diterima Komunitas Demokrasi (KODE) menyebutkan bahwa seleksi yang dilakukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa) dinilai cacat prosedur, tidak transparan, dan sarat kepentingan politik.

Direktur Eksekutif KODE, Toenjes Swansen Maniagasi, S.H., mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan dari para peserta yang merasa dirugikan. Para perintis program pendampingan ekonomi kampung ini justru dinyatakan gugur tanpa penjelasan memadai. “Nilai tes tidak diumumkan. Tidak ada penjelasan bagian mana yang membuat peserta gagal. Dari awal, masyarakat sudah mencium adanya aroma kepentingan politik,” tegasnya.

Dari laporan yang diterima KODE, keterlambatan pengumuman hasil seleksi yang molor dua hari dari jadwal resmi juga memicu kecurigaan. Warga menduga penundaan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan intervensi terhadap daftar kelulusan. “Kalau tes nasional seperti UTBK saja bisa menampilkan hasil secara instan, mengapa seleksi ini harus penuh misteri?” ujar Maniagasi.

Peserta juga mempertanyakan pelibatan sebuah perguruan tinggi negeri sebagai pelaksana tes. Menurut laporan yang masuk, pihak universitas dinilai tidak memahami “roh” program TEKAD maupun kondisi lapangan di Papua. “Kemendesa menyerahkan proses penting ini kepada pihak yang tidak menguasai medan, sehingga hasilnya tidak relevan dengan kebutuhan di lapangan,” katanya.

Yang lebih disesalkan, hasil seleksi hanya bisa diakses pribadi oleh masing-masing peserta melalui portal Kemendesa, tanpa publikasi terbuka. Menurut masyarakat yang melapor, ini adalah bentuk pembungkaman transparansi publik. Mereka meminta Majelis Rakyat Papua (MRP) dan DPR Papua membatalkan hasil seleksi dan mengusulkan agar seleksi ulang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua.

Laporan yang masuk ke KODE juga menyoroti dugaan permainan politik. Perubahan kepemimpinan partai di Kemendesa dinilai membuat fasilitator lama dicap sebagai “antek” partai sebelumnya. “Pendamping profesional ini bekerja demi masyarakat, bukan untuk kepentingan partai. Namun kini nasib mereka seolah ditentukan oleh pertimbangan politik,” kritik Maniagasi.

KODE juga meminta IFAD Indonesia, selaku pendonor program, untuk mengedepankan asas keberlanjutan dalam mengelola TEKAD. “Dengan sisa dua tahun masa perjanjian kerja sama antara IFAD dan Kemendesa, pergantian fasilitator yang tidak terukur hanya akan merusak fondasi yang telah dibangun bertahun-tahun,” tegasnya, lalu banyak peserta yang dinyatakan lulus berasal dari lupa Papua dan tidak mengerti lokasi dampingan di Papua, oleh sebab itu, KODE meminta untuk tes di Papua di kembalikan ke Universitas Cenderawasih dan Universitas Negeri Papua tandasnya.

Program TEKAD sendiri merupakan pendampingan ekonomi berbasis kampung yang awalnya hanya dilaksanakan di Tanah Papua sebelum meluas ke Maluku, Maluku Utara, dan NTT. Program ini berbeda dengan Dana Desa karena fokus pada pemberdayaan kelompok tani — mulai dari pembentukan kelompok, penguatan kelembagaan, pencarian pasar, hingga pelaporan berjenjang.

“Ini bukan sekadar sengketa hasil tes. Ini soal integritas dan masa depan program yang memberi dampak langsung pada masyarakat kampung. Jika hasil ini tidak dibatalkan, Kemendesa mengirim pesan bahwa kepentingan politik lebih diutamakan daripada kesejahteraan rakyat,” tutup Maniagasi

Redaksi Potret Papua

Recent Posts

URC Polda Papua Tengah Amankan Pencuri Televisi di Nabire

NABIRE – Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Papua Tengah…

2 jam ago

Bupati Yoas Beon Tekankan Sinergi OPD dan Puskesmas dalam Aksi Konvergensi Pencegahan dan Pencepatan Penurunan Stunting

KENYAM, 19 Agustus 2026 – Pemerintah Kabupaten Nduga kembali menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan stunting…

4 jam ago

KKB Diduga Sandera 9 Perempuan di Jila, Satu Ibu Tewas Ditembak

MIMIKA – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali diduga melakukan aksi kekerasan terhadap masyarakat di Kampung…

4 jam ago

Komite Eksekutif Papua dan Komnas HAM Bahas Krisis Pengungsi

Jakarta, 19 Agustus 2026. Pengungsian yang terjadi di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan, Provinsi…

4 jam ago

446 Kantah Terapkan Pengukuran Terjadwal, Layanan Tanah Kini Pasti

Jakarta - Sebanyak 446 Kantor Pertanahan (Kantah) di penjuru Indonesia telah menerapkan layanan Pengukuran Terjadwal,…

5 jam ago

Bupati Nduga Pimpin Pengambilan Sumpah Janji Enam Anggota DPRK Jalur Pengangkatan

KENEYAM, 19 Agustus 2026 – Bupati Nduga, Yoas Beon, S.Ip, menghadiri acara Pengambilan Sumpah dan…

5 jam ago
mrking   mrking   betcio   casibom   betlike   jojobet   betcio   betcio   betcio   onwin   onwin   betgaranti   betgaranti   betgaranti   spinco   betebet   betebet   betebet   onwin   betebet   betebet   betgaranti   betganrati   betgaranti   spinco   betgaranti   betgaranti   betgaranti   betgaranti   betgaranti   betebet   betebet   onwin   betebet   betebet   betebet   casibom   onwin   betpipo   marsbahis   grandpashabet   casibom