Daerah

Riyanto Nay: Media Lokal di Papua Diperlakukan Setengah Hati oleh Pemerintah Daerah

JAKARTA-Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Papua, Riyanto Nay, secara terbuka mengkritik masih minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap anggaran media lokal di Papua. Ia menilai, hingga kini media lokal kerap diperlakukan setengah hati, terutama dalam hal alokasi anggaran publikasi.

Menurut Riyanto, pemerintah daerah seolah lupa bahwa media lokal bukan sekadar papan pengumuman kebijakan. Media bekerja langsung di lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, dan di banyak wilayah Papua justru menjadi satu-satunya sumber informasi yang dapat diakses publik.

“Media lokal bekerja di wilayah sulit, menjangkau masyarakat secara langsung, tapi ketika bicara anggaran, justru selalu ditempatkan di urutan paling belakang,” ujar Riyanto.

Kondisi tersebut berdampak serius terhadap keberlangsungan media lokal. Dengan dukungan anggaran yang minim, media dipaksa bertahan di tengah tuntutan kerja yang terus meningkat. Liputan dituntut cepat, akurat, dan menjangkau daerah terpencil, namun tidak diimbangi dengan dukungan finansial yang memadai.

“Ini bukan soal manja. Ini soal logika,” tegasnya.

Riyanto menjelaskan, selain biaya sumber daya manusia, perusahaan media digital juga harus menanggung berbagai pengeluaran lain, mulai dari server, domain, keamanan siber, hingga pemeliharaan sistem teknologi informasi. Di sisi lain, tuntutan terhadap profesionalisme pers—baik dari segi kecepatan, akurasi, etika jurnalistik, maupun kepatuhan regulasi—semakin tinggi.

Ia juga menyinggung penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Papua tahun 2026 sebesar Rp4,4 juta. Menurutnya, terdapat ketimpangan kebijakan ketika pemerintah menetapkan standar hidup layak, namun tidak membuka ruang anggaran yang realistis bagi media lokal untuk memenuhi standar tersebut.

“Di satu sisi pemerintah bicara soal UMP dan hidup layak. Di sisi lain, media lokal tidak diberi dukungan anggaran yang memungkinkan itu. Akhirnya, beban jatuh ke perusahaan media dan wartawan,” katanya.

Riyanto menegaskan, jika pemerintah menginginkan pers yang profesional, maka dukungan yang diberikan juga harus profesional.

“Kalau pemerintah minta pers profesional, ya dukung secara profesional juga. Jangan minta pers kritis dan independen, tapi dipaksa hidup pas-pasan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa melemahkan media lokal bukan hanya soal bisnis pers, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas demokrasi daerah. Ketika media lokal tidak kuat, ruang publik berisiko dipenuhi informasi yang tidak terverifikasi karena tidak ada penyeimbang yang memadai.

“Kontrol publik melemah, informasi jadi timpang, suara masyarakat kecil makin sulit terdengar, dan ruang kritik makin sempit. Ini berbahaya, apalagi di Papua yang memiliki tantangan geografis dan sosial tersendiri,” lanjutnya.

Riyanto berharap pemerintah daerah dapat lebih adil dan realistis dalam memandang posisi media lokal. Media, menurutnya, bukan beban anggaran, melainkan mitra strategis dalam pembangunan dan penguatan demokrasi di Papua.

“Pesannya jelas. Pemerintah daerah harus berhenti melihat anggaran media sebagai formalitas. Media lokal adalah mitra strategis. Kalau terus diabaikan, jangan heran jika kualitas informasi publik ikut merosot,” pungkasnya.

Redaksi Potret Papua

Recent Posts

PN Jayapura Nyatakan Penetapan Tersangka LL Sah Menurut Hukum

Wamena – Gugatan praperadilan yang diajukan kuasa hukum mantan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten…

10 jam ago

Kapolres Mimika Terkesan Wajah Bersih Kampung Kokona

TIMIKA – Kesan pertama yang dirasakan Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak saat menginjakkan kaki…

11 jam ago

Distrik Yigi, Dal, Mbua, dan Mbulmu Yalma Terima Bantuan Beras dari Pemkab Nduga

Nduga – Pemerintah Kabupaten Nduga melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menyalurkan bantuan pangan berupa 4…

11 jam ago

Sosialisasi Perlindungan Perempuan dan Anak Digelar di Distrik Dokome

Dokome, 17 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak,…

13 jam ago

Dana Otsus 2026 Dukung Penguatan Data Gender dan Anak di Wuyuneri

Wuyuneri, 15 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak…

14 jam ago

Papua Pegunungan Perkuat Sinergi Nasional di Munaslub APPSI 2026

Lombok Barat, 16 Juli 2026 – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi…

15 jam ago