Riyanto Nay: Media Lokal di Papua Diperlakukan Setengah Hati oleh Pemerintah Daerah

- Penulis

Senin, 26 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA-Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Papua, Riyanto Nay, secara terbuka mengkritik masih minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap anggaran media lokal di Papua. Ia menilai, hingga kini media lokal kerap diperlakukan setengah hati, terutama dalam hal alokasi anggaran publikasi.

Menurut Riyanto, pemerintah daerah seolah lupa bahwa media lokal bukan sekadar papan pengumuman kebijakan. Media bekerja langsung di lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, dan di banyak wilayah Papua justru menjadi satu-satunya sumber informasi yang dapat diakses publik.

“Media lokal bekerja di wilayah sulit, menjangkau masyarakat secara langsung, tapi ketika bicara anggaran, justru selalu ditempatkan di urutan paling belakang,” ujar Riyanto.

Kondisi tersebut berdampak serius terhadap keberlangsungan media lokal. Dengan dukungan anggaran yang minim, media dipaksa bertahan di tengah tuntutan kerja yang terus meningkat. Liputan dituntut cepat, akurat, dan menjangkau daerah terpencil, namun tidak diimbangi dengan dukungan finansial yang memadai.

“Ini bukan soal manja. Ini soal logika,” tegasnya.

Riyanto menjelaskan, selain biaya sumber daya manusia, perusahaan media digital juga harus menanggung berbagai pengeluaran lain, mulai dari server, domain, keamanan siber, hingga pemeliharaan sistem teknologi informasi. Di sisi lain, tuntutan terhadap profesionalisme pers—baik dari segi kecepatan, akurasi, etika jurnalistik, maupun kepatuhan regulasi—semakin tinggi.

Ia juga menyinggung penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Papua tahun 2026 sebesar Rp4,4 juta. Menurutnya, terdapat ketimpangan kebijakan ketika pemerintah menetapkan standar hidup layak, namun tidak membuka ruang anggaran yang realistis bagi media lokal untuk memenuhi standar tersebut.

“Di satu sisi pemerintah bicara soal UMP dan hidup layak. Di sisi lain, media lokal tidak diberi dukungan anggaran yang memungkinkan itu. Akhirnya, beban jatuh ke perusahaan media dan wartawan,” katanya.

Riyanto menegaskan, jika pemerintah menginginkan pers yang profesional, maka dukungan yang diberikan juga harus profesional.

“Kalau pemerintah minta pers profesional, ya dukung secara profesional juga. Jangan minta pers kritis dan independen, tapi dipaksa hidup pas-pasan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa melemahkan media lokal bukan hanya soal bisnis pers, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas demokrasi daerah. Ketika media lokal tidak kuat, ruang publik berisiko dipenuhi informasi yang tidak terverifikasi karena tidak ada penyeimbang yang memadai.

“Kontrol publik melemah, informasi jadi timpang, suara masyarakat kecil makin sulit terdengar, dan ruang kritik makin sempit. Ini berbahaya, apalagi di Papua yang memiliki tantangan geografis dan sosial tersendiri,” lanjutnya.

Riyanto berharap pemerintah daerah dapat lebih adil dan realistis dalam memandang posisi media lokal. Media, menurutnya, bukan beban anggaran, melainkan mitra strategis dalam pembangunan dan penguatan demokrasi di Papua.

“Pesannya jelas. Pemerintah daerah harus berhenti melihat anggaran media sebagai formalitas. Media lokal adalah mitra strategis. Kalau terus diabaikan, jangan heran jika kualitas informasi publik ikut merosot,” pungkasnya.

Penulis : Gin

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Kapolres Dogiyai Pimpin Patroli Dialogis Jarak Jauh, TNI-Polri Perkuat Pengamanan dan Cegah Gangguan Kamtibmas di Dua Kampung
Bupati Aletinus dan Wabup FGT Resmikan Puskesmas Muara, Pelayanan Kesehatan Kini Diperkuat di Wilayah Perbatasan Lanny Jaya
Detik-Detik Pesawat Caravan PK-LTF Keluar Landasan di Intan Jaya, Ban Diduga Terlepas Saat Menyentuh Runway dan Dua Penumpang Terluka
Polri Hadir untuk Masyarakat, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Serahkan Bantuan Sembako kepada Keluarga Korban Kebakaran di Distrik Muara
Maximus Tipagau Bantah Terlibat sebagai Penyelenggara Seminar Potensi Mineral dan Migas Papua, Perusahaan Minta Klarifikasi Terbuka
Wujud Kepedulian terhadap Pendidikan Anak Papua, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Turun Langsung Berikan Perlengkapan Sekolah kepada Siswa SD Negeri Mulia
Dari Pantai MAF, Polda Papua Tengah Perkuat Gerakan Peduli Lingkungan, Bersihkan Pantai dan Tanam Pohon
Perkuat Iman dan Integritas Pelayanan, Kantor Pertanahan Jayawijaya Gelar Ibadah Rutin Bulanan Persekutuan Doa Oikumene

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:36 WIT

Kapolres Dogiyai Pimpin Patroli Dialogis Jarak Jauh, TNI-Polri Perkuat Pengamanan dan Cegah Gangguan Kamtibmas di Dua Kampung

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:21 WIT

Bupati Aletinus dan Wabup FGT Resmikan Puskesmas Muara, Pelayanan Kesehatan Kini Diperkuat di Wilayah Perbatasan Lanny Jaya

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:23 WIT

Detik-Detik Pesawat Caravan PK-LTF Keluar Landasan di Intan Jaya, Ban Diduga Terlepas Saat Menyentuh Runway dan Dua Penumpang Terluka

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:45 WIT

Polri Hadir untuk Masyarakat, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Serahkan Bantuan Sembako kepada Keluarga Korban Kebakaran di Distrik Muara

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:06 WIT

Maximus Tipagau Bantah Terlibat sebagai Penyelenggara Seminar Potensi Mineral dan Migas Papua, Perusahaan Minta Klarifikasi Terbuka

Berita Terbaru