REFLEKSI HUT KE-63 INJIL MASUK DI TANAH NDUGAMA
31 Oktober 1963 – 31 Oktober 2026
Tema: “Dari Kegelapan kepada Terang-Nya yang Ajaib” (1 Petrus 2:9)
Oleh: Budy Elopere
Shalom!
Berikut refleksi saya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 Injil Masuk di Tanah Ndugama. Peringatan ini hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menggali kembali makna keselamatan, mengenang sejarah perjalanan Injil, serta merefleksikan tanggung jawab iman kita sebagai generasi penerus.
1. Sejarah Perjalanan Injil: Dari Luar Indonesia hingga ke Tanah Papua
Injil tidak lahir di Papua. Injil datang dari tempat yang jauh melalui perjalanan panjang para misionaris yang memiliki kerinduan untuk memberitakan keselamatan kepada berbagai bangsa.
1. Dari luar Papua: Misi The Christian and Missionary Alliance (C&MA)
The Christian and Missionary Alliance (C&MA) didirikan oleh Dr. A.B. Simpson, seorang pendeta Presbiterian keturunan Skotlandia, di New York pada tahun 1887. Visi pelayanan misi tersebut kemudian dilanjutkan oleh Dr. Robert A. Jaffray yang tiba di Pulau Jawa pada 29 Juni 1929.
2. Pintu masuk Injil ke Tanah Papua
Pada 5 Februari 1855, dua zendeling asal Jerman, C.W. Ottow dan J.G. Geissler, mendarat di Pulau Mansinam, Teluk Doreh. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah masuknya Injil ke Tanah Papua, yang kini telah berlangsung selama 171 tahun.
3. Pintu masuk Injil ke wilayah Pegunungan Papua
Pada tahun 1938, dalam konferensi misi CAMA di Malino, Sulawesi Selatan, diputuskan untuk memperluas pelayanan Injil ke wilayah pedalaman Papua.
Pada tahun 1939, pilot Belanda F.J. Wissel menemukan Danau Paniai. Kemudian, pada 13 Januari 1939, keluarga Deibler dan keluarga Walter Post bersama tiga mahasiswa Sekolah Alkitab Makassar serta 20 orang Dayak tiba di Danau Paniai dan bertemu dengan masyarakat suku Mee.
Tanggal tersebut kemudian dikenal dan diperingati sebagai Hari Injil Masuk Pegunungan Papua.
4. Injil masuk ke Lembah Baliem
Pada April 1954, misionaris CAMA pertama kali mendarat di Lembah Baliem. Dari wilayah ini, pemberitaan Injil kemudian berkembang ke berbagai suku di Pegunungan Tengah Papua, termasuk suku Dani, Moni, Damal, Amungme, Lani, dan Nduga.
Perjalanan sejarah ini menunjukkan bahwa setiap wilayah memiliki mata rantai sejarah yang saling berkaitan.
Tanpa Mansinam 1855, tidak ada Paniai 1939. Tanpa Paniai 1939, tidak ada Baliem 1954.
Demikian pula, perjalanan panjang pemberitaan Injil tersebut menjadi bagian penting dari sejarah masuknya Injil ke Tanah Ndugama.
2. Injil Masuk ke Tanah Ndugama: Mengapa 31 Oktober 1963?
Setelah Injil berkembang di Paniai dan Lembah Baliem, perhatian pelayanan misi mulai tertuju ke wilayah barat daya Pegunungan Tengah Papua yang pada masa itu masih dianggap sebagai daerah terpencil dan sulit dijangkau.
Wilayah Ndugama termasuk salah satu daerah yang paling terakhir menerima pelayanan Injil karena beberapa tantangan, antara lain:
Perang antarsuku yang berlangsung terus-menerus, sehingga perjalanan dan pelayanan misi menghadapi berbagai hambatan.
Kondisi geografis yang sulit, berupa hutan lebat, pegunungan terjal, serta keterbatasan sarana transportasi dan lapangan terbang.
Kepercayaan terhadap kultus kargo, yaitu keyakinan bahwa orang kulit putih akan datang membawa barang-barang atau kargo. Kepercayaan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses penerimaan Injil.
Pada tahun 1960-an, para misionaris CAMA dan guru-guru Injil dari suku Mee dan Dani melakukan perjalanan kaki selama berhari-hari dari Mulia, Ilaga, hingga Beoga untuk masuk ke wilayah Nduga.
Dari Beoga pula, pada 6 April 1962, lahir organisasi KINGMI (Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia) di Tanah Papua. Dari wilayah tersebut, pelayanan para penginjil kemudian menjangkau masyarakat Ndugama.
Menurut catatan Klasis Mimika dan Nduga, gereja pertama di wilayah Nduga mulai dirintis pada tahun 1963. Masyarakat Ndugama secara resmi menerima Injil pada 31 Oktober 1963.
Tanggal inilah yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Injil Masuk di Tanah Ndugama.
Gereja Kemah Injil di Tanah Papua kemudian menjadi salah satu wadah pelayanan yang meneruskan hasil pemberitaan Injil tersebut.
Nama-nama yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah pelayanan Injil:
Don dan Alice Gibbons (1956–1994), yang melayani di Beoga, Jila, Ilaga, Sinak, dan Tembagapura serta turut mewariskan Kitab Suci dalam bahasa Damal dan Dani.
Gordon dan Peggy Larson.
John Ellenberger.
Para guru Injil pribumi Papua, termasuk Christian David Paksoal dari suku Mee.
Nama-nama tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pelayanan Injil yang patut dikenang dan dihargai oleh generasi Ndugama.
3. Makna Injil: Bukan Sekadar Perayaan dan Keramaian
Berdasarkan refleksi teologi dan antropologi yang saya pelajari, Kejadian 1:27 mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Sebelum Injil masuk, leluhur kita di Tanah Ndugama hidup dalam berbagai ketakutan, antara lain:
Ketakutan terhadap roh-roh jahat, perang balas dendam, serta kematian tanpa pengharapan.
Kehidupan yang terjebak dalam lingkaran kekerasan dan berbagai kepercayaan yang mengikat kehidupan masyarakat.
Ketika Injil datang, Injil membawa berita keselamatan yang menyentuh seluruh kehidupan manusia. Dalam refleksi ini, keselamatan dapat dipahami melalui tiga dimensi:
A. Keselamatan Tubuh (Soma)
Pelayanan Injil turut mendorong pembangunan sekolah, klinik, dan lapangan terbang. Pendidikan mulai berkembang dan masyarakat memperoleh kesempatan untuk belajar.
Anak-anak Nduga yang dahulu memiliki keterbatasan akses pendidikan, kini telah banyak yang menjadi mahasiswa, pegawai, dan mengabdikan diri dalam berbagai bidang kehidupan.
Inilah salah satu buah pelayanan pendidikan yang patut disyukuri.
B. Keselamatan Jiwa (Psyche)
Injil memulihkan harga diri dan martabat manusia.
Orang Nduga bukanlah manusia yang rendah atau tidak berharga. Mereka adalah anak-anak Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.
Injil mengajarkan pengampunan, kasih, dan perdamaian sehingga luka akibat perang antarsuku dan berbagai konflik dapat dipulihkan.
C. Keselamatan Roh (Pneuma)
Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah adalah Roh, dan mereka yang menyembah Dia harus menyembah dalam roh dan kebenaran.
Efesus 2:1 mengingatkan bahwa manusia yang dahulu mati karena pelanggaran dan dosa dapat dihidupkan kembali melalui kasih karunia Allah.
Injil membawa manusia kepada kehidupan rohani yang baru, meninggalkan penyembahan kepada roh-roh dan berbalik kepada Allah yang benar.
Inilah makna sesungguhnya dari peringatan HUT Injil ke-63: Injil membawa manusia keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
Karena itu, perayaan ini bukan hanya tentang bakar batu, tarian, pesta, dan keramaian. Lebih dari itu, kita harus mengingat bagaimana Tuhan telah mengubah kehidupan manusia.
Dahulu kita buta, sekarang kita melihat. Dahulu hidup dalam ketakutan, sekarang memiliki pengharapan di dalam Kristus.
4. Tantangan Dulu dan Sekarang: 1963–2026
Perjalanan Injil selama 63 tahun tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Tantangan pada masa awal pemberitaan Injil berbeda dengan tantangan yang dihadapi gereja dan masyarakat Nduga saat ini.
A. Tantangan pada Masa Awal (1963–1980)
Beberapa tantangan yang dihadapi para penginjil dan masyarakat pada masa itu antara lain:
Penolakan terhadap Injil karena kuatnya pengaruh adat dan kepercayaan leluhur.
Keterbatasan bahan bacaan dan belum tersedianya Alkitab dalam bahasa Nduga.
Kekurangan tenaga guru dan pelayan Injil.
Ancaman penyakit, sulitnya transportasi, serta kondisi geografis yang berat.
Selain itu, perjalanan gereja juga berlangsung dalam situasi politik yang kompleks, termasuk periode integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1 Mei 1963, pelaksanaan PEPERA 1969, serta berbagai dinamika politik dan keamanan di Papua, termasuk situasi di wilayah Paniai.
B. Tantangan pada Masa Sekarang (2026)
Memasuki usia ke-63 tahun, gereja dan masyarakat Nduga menghadapi tantangan yang tidak kalah berat.
1. Kekerasan dan Stigma terhadap Masyarakat
Kasus penembakan pada 23 Oktober 2026 di Kampung Yosoma, yang mengakibatkan dua warga sipil meninggal dunia dan satu orang mengalami luka berat, menjadi keprihatinan bersama.
Dalam informasi yang disampaikan dalam refleksi ini, terdapat perbedaan penyebutan mengenai pihak yang terlibat. Laporan Polres Nduga disebut mencatat bahwa korban bukan anggota KKB maupun DPO.
Situasi ini menjadi tantangan bagi gereja untuk hadir sebagai suara kenabian, membela kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan melindungi martabat manusia.
Hal ini sejalan dengan semangat Surat Seruan Gembala KINGMI Nomor 22/SG/DKPKINGMI/X/2026.
2. Konflik Horizontal dan Perang Saudara
Belakangan ini, konflik horizontal dan perang saudara masih menyelimuti kehidupan masyarakat Nduga.
Kondisi tersebut menjadi keprihatinan serius karena sesama orang Nduga seharusnya saling menjaga, mengasihi, dan membangun kehidupan yang damai.
Gereja harus menjadi tempat untuk mempertemukan, mendamaikan, dan memulihkan hubungan antarsesama.
3. Literasi Digital dan Ancaman Hoaks
Di era digital, masyarakat dihadapkan pada berbagai informasi yang simpang siur.
Bahkan, dalam pemberitaan mengenai suatu peristiwa, terdapat perbedaan informasi tentang usia korban, yang disebut 14 tahun, 16 tahun, hingga 23 tahun.
Generasi Nduga harus memiliki kesadaran literasi digital dan prinsip zero trust, yakni tidak langsung mempercayai informasi sebelum melakukan pemeriksaan dan verifikasi terhadap sumber yang jelas.
Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru memperkeruh keadaan dan memicu konflik baru.
4. Pemuda Kehilangan Arah dan Masa Depan
Angkatan Muda Kemah Injil (AMKI) dibentuk pada 28 Agustus 1963 di Bomou oleh Yusak Ikomou. Sejarah ini menunjukkan bahwa pemuda memiliki peranan penting dalam perjalanan gereja.
Namun, saat ini banyak pemuda Nduga menghadapi persoalan pengungsian, putus sekolah, penyalahgunaan minuman keras, narkoba, serta penggunaan telepon genggam yang tidak selalu memberikan dampak positif.
Gereja, pemerintah, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat perlu memberikan perhatian serius terhadap masa depan generasi muda Nduga.
5. Perpecahan di Dalam Gereja
Konflik internal dan perbedaan di antara sesama umat maupun organisasi gereja, termasuk persoalan KINGMI dan GKII yang telah berlangsung lama, harus diselesaikan melalui jalan damai.
Gereja tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai pembawa kasih, persatuan, dan perdamaian.
Perbedaan organisasi tidak boleh mengalahkan kasih Kristus yang mempersatukan umat-Nya.
5. Harapan untuk Generasi Nduga di Mana Pun Berada
Sebagai anak daerah Nduga, saya, Budy Elopere, ingin menyampaikan refleksi dan harapan kepada seluruh generasi Ndugama.
Jangan jadikan peringatan HUT ke-63 Injil Masuk di Tanah Ndugama hanya sebagai kegiatan seremonial dengan baliho besar dan spanduk bertuliskan Selamat HUT Injil Masuk di Tanah Ndugama ke-63.
Jangan hanya meramaikan lapangan dengan pesta dan berbagai kegiatan.
Namun, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah Injil sudah benar-benar berakar di dalam hati kita, atau hanya terlihat dari pakaian dan simbol-simbol keagamaan yang kita gunakan?
Setelah 63 tahun Injil hadir di Tanah Ndugama, mengapa masih ada tindakan saling membunuh dan menyakiti sesama, padahal Keluaran 20:13 dengan tegas mengajarkan, “Jangan membunuh”?
Apakah buah Injil sudah terlihat melalui cara kita menjaga tanah, melindungi mama-mama, menjaga anak-anak, serta menghargai kehidupan sesama manusia?
Saya memiliki kerinduan agar generasi Ndugama di mana pun berada mau membaca, memahami, dan mempelajari sejarah perjalanan Injil ini.
Mari kita mengingat kembali perjalanan panjang tersebut:
Mansinam, 5 Februari 1855.
Paniai, 13 Januari 1939.
Lembah Baliem, April 1954.
Tanah Ndugama, 31 Oktober 1963.
Perjalanan ini merupakan sejarah panjang yang diwarnai pengorbanan, darah, air mata, doa, dan pelayanan para misionaris serta para penginjil pribumi Papua, termasuk orang-orang Nduga sendiri yang turut memberitakan Injil kepada saudara-saudaranya.
Tugas kita sekarang bukan lagi sekadar membawa Injil masuk ke Tanah Ndugama, tetapi membawa Injil keluar melalui kehidupan nyata.
Jadilah generasi yang membawa terang, kasih, perdamaian, pendidikan, keadilan, dan pengharapan bagi sesama.
Jangan biarkan sejarah Injil hanya menjadi cerita masa lalu. Jadikan Injil sebagai dasar untuk membangun masa depan Tanah Ndugama.
Dari Ndugama untuk Papua, dari Papua untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia.
Selamat HUT ke-63 Injil Masuk di Tanah Ndugama.
31 Oktober 1963 – 31 Oktober 2026.
Kiranya Tuhan Yesus Kristus senantiasa memberkati, menjaga, memulihkan, dan menerangi seluruh Tanah Ndugama serta setiap generasi yang hidup di dalamnya.
Penulis : Gin
Editor : Buendi















