WAMENA, 8 Agustus 2026 – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menegaskan komitmennya dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria (ATM) melalui penguatan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Workshop Petunjuk Teknis Integrasi Pencegahan dan Pengendalian AIDS, TBC dan Malaria (PP-ATM) Provinsi Papua Pegunungan yang digelar Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES), Selasa (8/9), di Pilamo Hotel Wamena.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Gubernur Papua Pegunungan yang diwakili Staf Ahli Gubernur Papua Pegunungan Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Dr. Isak Yando, S.E., M.Si.
Workshop ini dihadiri pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Provinsi Papua Pegunungan, pimpinan OPD terkait dari enam kabupaten lokus atau yang mewakili, pimpinan ADINKES Pusat yang diwakili Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama bersama tim, pimpinan badan usaha, serta para tamu undangan lainnya.
Dalam sambutan Gubernur Papua Pegunungan yang dibacakan Isak Yando, disampaikan bahwa AIDS, TBC, dan Malaria masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya di Papua Pegunungan. Tingginya angka prevalensi ketiga penyakit tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpengaruh terhadap pembangunan sosial, ekonomi, serta masa depan generasi.
“Kita semua menyadari bahwa AIDS, TBC, dan Malaria masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Papua Pegunungan, mengingat angka prevalensi AIDS, TB dan Malaria masih tinggi,” kata Gubernur dalam sambutannya.
Menurutnya, upaya penanggulangan ATM harus terintegrasi dalam pembangunan kesehatan daerah. Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan program pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC dan Malaria direncanakan serta dianggarkan dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Gubernur menegaskan bahwa penanggulangan ATM tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan dan sinergi berbagai sektor, termasuk pemerintah, mitra pembangunan, organisasi masyarakat sipil, akademisi dan dunia usaha.
“Pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC dan Malaria tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan, tetapi dibutuhkan lintas sektor, sinergi program dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mendorong pemerintah kabupaten untuk menyusun dokumen perencanaan yang responsif, berbasis data dan inklusif. Langkah ini penting agar setiap kebijakan memiliki target dan indikator yang jelas serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Gubernur juga menekankan pentingnya Forum Kemitraan Pencegahan dan Pengendalian AIDS, TBC dan Malaria sebagai wadah strategis dalam mempercepat pencapaian target eliminasi ATM tahun 2030.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, mitra pembangunan, organisasi masyarakat sipil, akademisi dan dunia usaha diharapkan dapat memperkuat berbagai upaya pencegahan dan pengendalian di lapangan.
“Saya berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi motor penggerak aksi nyata di lapangan, sehingga benar-benar membawa perubahan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan,” ujarnya.
Sementara itu, Program Coordinator Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) Provinsi Papua Pegunungan dari ADINKES, Monika Mallisa, SKM., M.K.M., mengatakan bahwa kasus HIV/AIDS, Tuberkulosis dan Malaria hingga saat ini masih menjadi isu kesehatan masyarakat global.
Ketiga penyakit tersebut tidak hanya menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Di Provinsi Papua Pegunungan, situasi ATM hingga tahun 2026 masih membutuhkan perhatian serius. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, estimasi kasus TBC tercatat sebanyak 119 kasus per Juli 2025, sementara kasus HIV/AIDS secara kumulatif mencapai 8.074 kasus HIV per Oktober 2025. Sedangkan kasus positif malaria dilaporkan sebanyak 38.049 kasus per Agustus 2025.
Dari delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan, belum ada kabupaten yang mencapai status eliminasi malaria. Seluruh kabupaten masih berada dalam tahap menuju eliminasi.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian ATM masih harus terus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan,” ujar Monika.
Menurutnya, target eliminasi ATM pada 2030 hanya dapat dicapai melalui intervensi yang terencana, terintegrasi dan berbasis bukti.
Pencegahan HIV, kata dia, sangat berkaitan dengan pengendalian perilaku berisiko melalui upaya promotif dan preventif. Sementara pengendalian TBC dan malaria berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan sosial dasar, peningkatan kualitas lingkungan serta perluasan akses terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu.
Karena itu, diperlukan komitmen kuat dan peran aktif pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah. Program pencegahan dan pengendalian ATM akan berjalan lebih efektif apabila didukung kebijakan yang konsisten, penguatan tata kelola serta pola kerja yang integratif dan kolaboratif.
Sejalan dengan upaya pencapaian target eliminasi ATM dan penguatan Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH), diperlukan panduan yang jelas bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan program dan penganggaran ATM ke dalam dokumen perencanaan pembangunan dan keuangan daerah.
Integrasi tersebut penting untuk memastikan keberlanjutan pendanaan, efektivitas belanja, serta keselarasan program dengan prioritas pembangunan nasional dan daerah.
Atas dasar tersebut, workshop ini dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas para pemangku kepentingan di tingkat provinsi dalam mengimplementasikan integrasi program dan penganggaran ATM secara komprehensif dan selaras dengan kebijakan nasional.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi lintas sektor serta mendukung terwujudnya sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan di Provinsi Papua Pegunungan.
Melalui workshop tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan berharap dapat menghasilkan rumusan teknis yang aplikatif, dokumen perencanaan yang lebih terarah, serta memperkuat komitmen bersama dalam pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC dan Malaria.
Dukungan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam mewujudkan target eliminasi AIDS, TBC dan Malaria pada tahun 2030, sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan.
Penulis : Gin
Editor : Buendi















