Daerah

Bom di Tanah Leluhur, Warga Lanny Jaya Minta Negara Jangan Abaikan Hak Hidup OAP

LANNY JAYA, 9 JUNI 2026– Suara keras datang dari kalangan intelektual Lanny Jaya menyusul tragedi yang menewaskan seorang anak muda bernama Pendite Weya (18) di Kampung Wunabunggu, Distrik Malagai, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Korban meninggal dunia akibat ledakan granat saat sedang bersama orang tuanya mencari buah pandan/kelapa hutan di dusun mereka.

Nioluen Kotouki, mewakili intelektual Lanny Jaya, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh hanya hadir memberi bantuan bahan makanan semata, tetapi harus bertindak lebih jauh. “Yang paling penting adalah mengungkap siapa pelaku yang memasang bom di tempat aktivitas warga. Ini bukan sekadar musibah, ini pelanggaran HAM berat yang merenggut nyawa anak Papua,” tegasnya.

Menurut Kotouki, lokasi kejadian adalah dusun dan hutan yang secara turun-temurun menjadi warisan leluhur masyarakat setempat. “Negara tidak bisa mengkapling hak hidup orang asli Papua. Tempat itu adalah tanah warisan, ruang hidup yang tidak boleh diganggu,” ujarnya dengan nada penuh keprihatinan.

Ia meminta Bupati dan DPRD Lanny Jaya untuk segera membantu keluarga korban dengan mendorong aparat mengungkap pelaku agar diproses sesuai hukum yang berlaku. Desakan juga ditujukan kepada Polda Papua agar segera melakukan investigasi menyeluruh.

Kotouki menilai, kehadiran pos TNI di Wunabunggu sejak beberapa waktu lalu telah menimbulkan ketegangan dan rasa tidak aman bagi warga. “Sejak ada pos TNI di wilayah itu, aktivitas masyarakat mencari makan di hutan jadi terganggu. Anak-anak sekolah pun tidak bisa belajar maksimal karena suasana tidak kondusif,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian serius pemerintah pusat. Presiden RI diminta mengevaluasi keberadaan Markas Komando Operasi (Koops) TNI Habema yang wilayah operasinya mencakup enam provinsi di Tanah Papua. Menurutnya, keberadaan satgas harus diatur agar tidak menimbulkan trauma berkepanjangan bagi masyarakat.

Masyarakat setempat berharap pemerintah dapat memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan sehingga mereka bisa kembali beraktivitas di tanah leluhur tanpa rasa takut. “Kami ingin hidup tenang di kampung sendiri, mencari makan di hutan seperti yang dilakukan leluhur kami. Pemerintah harus hadir memberi rasa aman, bukan sebaliknya,” kata salah satu tokoh masyarakat.

Tragedi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk segera bertindak. Ungkapan duka tidak cukup; yang dibutuhkan adalah langkah nyata mengungkap pelaku, menegakkan hukum, dan memastikan masyarakat Papua Pegunungan tidak lagi kehilangan nyawa akibat ledakan bom yang ditinggalkan di tanah mereka.

Redaksi Potret Papua

Recent Posts

Langkah Cepat Pemda Lanny Jaya: Pastikan Fakta, Beri Dukungan, dan Dengarkan Aspirasi Warga Malagi

TIOM, 8 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya bergerak cepat memastikan informasi adanya warga…

14 jam ago

Kerja Sama Strategis: RSUD Elvirda Sara Gandeng RSUD Mimika untuk Magang dan Rujukan Pasien

TIMIKA, 8 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Nduga melalui RSUD Elvrida Sara resmi menjalin kerja…

17 jam ago

Percepat Pembangunan Lanny Jaya, Bupati Aletinus Yigibalom Lakukan Pertemuan Dengan Kemendes PDT dan KSP

JAKARTA, 8 Juni 2026 – Bupati Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, S.Pd, melakukan pertemuan strategis dengan…

17 jam ago

Bunda PAUD Papua Pegunungan Dorong Penguatan Pendidikan Karakter pada Penamatan TK Koinonia Wamena

Wamena, 8 Juni 2026 – Bunda PAUD Provinsi Papua Pegunungan, Bunda Anggieta Bestari Tabo, menghadiri…

18 jam ago

Polda Papua Tengah Ungkap Jaringan Peredaran Obat Keras Ilegal di Dogiyai, Pelaku Terancam 12 Tahun Penjara

Nabire – Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Papua Tengah berhasil menangkap seorang pelaku peredaran obat…

18 jam ago

Inflasi Papua dan DOB Mei 2026 Tetap Terkendali, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jayapura,8 Juni 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan inflasi di wilayah kerja Kantor…

23 jam ago