Jakarta, 12 Juni 2026– Pemerintah Kabupaten Tolikara terus memperkuat konsep pembangunan pertanian yang sesuai dengan karakter wilayah pegunungan. Dalam Rapat Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua Tahun 2026 di Kementerian Pertanian RI, Bupati Tolikara Willem Wandik menegaskan bahwa sistem pertanian di daerahnya harus dibangun secara terintegrasi dengan menggabungkan sektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan babi.
Menurut Willem Wandik, masyarakat Tolikara sejak lama telah menerapkan pola pertanian yang saling mendukung antara kebun dan peternakan. Ubi jalar bukan hanya menjadi pangan pokok masyarakat, tetapi juga menjadi sumber pakan ternak, sementara kotoran ternak dapat diolah kembali menjadi pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan lahan.
“Pendekatan pembangunan pertanian di Papua Pegunungan tidak boleh dipisah-pisahkan. Kebun, ternak, sumber air, dan masyarakat adat adalah satu kesatuan yang harus dikelola secara berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam konsep tersebut, Pemerintah Kabupaten Tolikara akan memprioritaskan revitalisasi kebun ubi jalar, pengembangan keladi dan jagung, perluasan hortikultura dataran tinggi, penyediaan bibit ternak babi berkualitas, pelayanan kesehatan hewan, hingga pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik.
Program ini juga didukung dengan pengembangan sistem pertanian tanpa limbah atau zero waste. Sisa hasil panen dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah menjadi kompos untuk menyuburkan kebun. Dengan pola ini, petani diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen.
Selain itu, pemerintah daerah akan memberikan pendampingan langsung kepada keluarga petani melalui tenaga penyuluh untuk meningkatkan kemampuan budidaya tanaman pangan lokal, pengelolaan peternakan, hingga pengolahan hasil pertanian agar memiliki nilai tambah ekonomi.
Bupati Willem Wandik juga menegaskan bahwa keberadaan ternak babi memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar komoditas ekonomi. Dalam kehidupan masyarakat Tolikara, ternak babi menjadi bagian penting dari adat istiadat, simbol kekayaan keluarga, alat penyelesaian konflik, hingga digunakan dalam berbagai upacara budaya.
Karena itu, program pengembangan peternakan akan mencakup penyediaan bibit unggul, penerapan biosekuriti, pencegahan penyakit, vaksinasi, penyediaan tenaga kesehatan hewan, manajemen pakan lokal, pencatatan populasi ternak, serta penguatan tata niaga hasil peternakan.
Melalui kebijakan tersebut, Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap dapat mewujudkan sistem pertanian yang mandiri, berbasis pangan lokal, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari kampung hingga ke kota.
“Bagi masyarakat Tolikara, kehilangan ternak babi bukan hanya kehilangan aset ekonomi, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial dan adat. Karena itu, pembangunan pertanian harus mampu menjaga keduanya secara bersamaan,” demikian salah satu poin penting dalam materi yang disampaikan Bupati Tolikara pada forum nasional tersebut.
WAMENA –11 pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mengikuti Prosesi pengambilan…
Paniai, 12 Juni 2026 – Polda Papua Tengah kembali menunjukkan komitmennya mendukung kesejahteraan masyarakat melalui…
Jakarta – Bupati Tolikara, Willem Wandik, menyiapkan pengembangan lahan sawah seluas 300 hektar di Distrik…
Kenyam, 12 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Nduga kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan keagamaan…
Kenyam, 12 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Nduga melalui Dinas Perhubungan menyalurkan bantuan dana pembangunan…
Jayapura, 11 Juni 2026 – Festival Cenderawasih (Fescend) ke-3 resmi dibuka di Kantor Perwakilan Bank…