Daerah

Di Bawah Gunung Cycloop, Iman Bertumbuh dalam Kesederhanaan

Oleh Elias Awekidabi Gobay

Misa Perayaan Syukur Yubileum Pesta Perak 25 Tahun Imamat Pastor John Bunay, Pr., berlangsung khidmat di Bahtera Kristoforus, Kampung Dosai, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Bangunan doa itu berdiri tenang di bawah kaki Gunung Cycloop (Sicklop), gunung yang bagi orang Papua bukan sekadar bentang alam, tetapi simbol penjaga kehidupan, keheningan, dan kesetiaan.

Senin, 2 Februari 2026, umat berkumpul bukan hanya untuk merayakan 25 tahun imamat, tetapi untuk meneguhkan kembali perjalanan iman yang dibentuk oleh kesederhanaan, pergulatan, dan keberanian melintasi batas-batas gerejawi maupun kultural.

Bahtera Kristoforus sendiri berbicara sebelum kata-kata diucapkan. Dari luar, bangunannya berbentuk perahu simbol wilayah pesisir. Namun di dalamnya berdiri honai, rumah adat masyarakat pegunungan. Pantai dan gunung dipertemukan dalam satu ruang doa, tepat di bawah Gunung Cycloop, seakan alam pun ikut menjadi saksi. Bahtera ini bukan sekadar arsitektur, melainkan pernyataan iman: bahwa Papua dengan seluruh keberagamannya dipanggil berjalan bersama menuju Kristus.

Makna itu menemukan resonansinya dalam kesaksian hidup yang dibagikan dalam misa tersebut. Pada tahun 2010, saat saya masih berada di Singapura mengikuti kegiatan KKR, saya diminta membuka sebuah rumah doa. Aulanya dibangun sederhana, berbentuk bahtera, tanpa mandor dan tanpa kemewahan. Bahtera itu dirancang menyentuh dua realitas hidup Papua: pantai dan gunung. Sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga terutama om-om saya di dalamnya dibangun sebuah honai.

Tempat itu difungsikan sebagai rumah retret. Ruang sunyi untuk berjumpa dengan Tuhan. Fokusnya murni spiritual: tidak ada merokok, tidak makan pinang. Bukan karena aturan keras, melainkan demi menjaga kesadaran batin. Di ruang seperti itu, orang belajar diam, mendengar, dan membiarkan Tuhan bekerja tanpa gangguan.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Ignas Adii, kembali dikenang perjalanan iman saya bersama Pastor John Bunay. Kami berasal dari latar Gereja KINGMI. Dalam proses doa, pendalaman iman, dan pencarian yang jujur, kami masuk ke dalam Gereja Katolik. Ignas Adii menegaskan bahwa perjalanan ini tidak dimaknai sebagai penyangkalan iman sebelumnya, melainkan sebagai penyempurnaan iman sebuah pendewasaan rohani yang membawa pada kepenuhan hidup menggereja.

Kesaksian itu mencerminkan karakter pelayanan Pastor John Bunay. Ia dikenal sebagai imam yang membangun jembatan, bukan tembok. Cara melayaninya sering disebut sebagai gaya KINGMI yang dihidupi dalam spiritualitas Katolik: sederhana, alkitabiah, membumi, dan dekat dengan umat. Pendekatan ini membuatnya diterima lintas denominasi, tanpa kehilangan identitas Katoliknya.

Pastor John Bunay nama lengkapnya Pastor Alberto Yohanes Kristoforus Wudinabi Yagema Bunay, Pr. ditahbiskan menjadi imam pada 2 Februari 2001. Dalam 25 tahun pelayanannya, ia pernah menjadi Pastor Paroki Nilai di wilayah Moni, Kabupaten Intan Jaya (2001–2003), kemudian mengabdi sebagai Rektor Seminari Tinggi STFT Fajar Timur, pembimbing rohani kharismatik, pengkhotbah keliling, hingga mendirikan pusat spiritual Santo Yohanes Paulus II dan Bahtera Kristoforus di bawah Gunung Cycloop.

Dalam sambutannya, Pastor John berbicara dengan nada sederhana dan jujur. “Saya bersyukur Tuhan menyertai dalam tugas khusus ini. Saya tidak memikirkan istri dan anak, tetapi melayani manusia. Carilah Kerajaan Allah. Panggilan ini berbeda, ini istimewa. Kami hidup bersama umat itulah keluarga kami,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Bahtera Kristoforus dibangun sebagai sarana pastoral. Tempat retret, pemulihan, dan perjumpaan dengan Kristus, Sang Sumber Damai. “Kita satu, Papua Damai menuju Tuhan. Bahtera ini dipakai untuk retret agar dalam pertemuan orang menemukan damai dan kasih,” katanya.

Pesan damai itu konsisten ia gaungkan. “Prinsip hidup saya sederhana,” ujarnya, “saya sedih jika melihat engkau menangis, dan bahagia jika melihat engkau tersenyum.”

Pater Jems Kosay, Pr., menambahkan bahwa keunikan Pastor John terletak pada kesetiaannya menghidupi motto tahbisannya: “Tidak ada yang mustahil bagi Allah” (Lukas 1:37). Motto itu nyata dalam pelayanannya-dari daerah terpencil hingga pusat pembinaan, dari dialog lintas denominasi hingga karya pastoral yang membumi.

Ketika misa berakhir, Bahtera Kristoforus tetap berdiri tenang di bawah Gunung Cycloop. Ia menjadi saksi bahwa iman sering bertumbuh dari keheningan, dari perjalanan panjang, dan dari keberanian untuk dimurnikan serta disempurnakan. Dari pantai dan gunung, dari perbedaan dan jarak, umat diajak berjalan menuju satu tujuan: Kristus, Sang Damai sejati.

Redaksi Potret Papua

Recent Posts

Kebakaran Hebat di Paniai Timur: 40 Rumah Ludes, 11 Warga Tewas, Polisi Kerahkan Water Canon dan Selidiki Penyebab

PANIAI – Kebakaran hebat melanda kawasan Kompas Lama, Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai,…

4 jam ago

BAZNAS Papua Hadirkan Pengobatan dan Pijat Gratis untuk Korban Kebakaran Dok V

Kadinkes Provinsi dan Walikota Berikan Apresiasi JAYAPURA — Di tengah duka dan keterbatasan yang masih…

1 hari ago

Pemkot Jayapura Ajak FOCIM Bangun Kebersamaan

JAYAPURA-Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Family of Christ International Ministry (FOCIM) Kota Jayapura Periode 2026-2031 secara…

2 hari ago

Pemda Lanny Jaya Kembali Salurkan Bantuan untuk Tiga Distrik Terdampak Hujan Es. Bama, Posko Hingga Tim Kesehatan Diterjunkan

KUYAWAGE, 4 September 2026 — Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya kembali bergerak menangani dampak bencana hujan…

2 hari ago

OTK Berondong Tembakan ke Truk Tangki, Polisi Lakukan Perlawanan

DOGIYAI – Mobil truk tangki BBM milik PT Gunung Selatan ditembaki orang tak dikenal (OTK)…

2 hari ago

Resmi Dilantik, AKBP Yudha Wicaksono Pimpin Polres Puncak Jaya

PUNCAK JAYA – Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini resmi melantik AKBP Yudha Wicaksono…

2 hari ago