Jayapura – Pelajar SMA YPPK Taruna Bakti Jayapura, Benedicta Kumanireng berhasil meraih Juara I dalam lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Komunitas Kintal Rum Fararur dengan tema Corong Literasi Berbasis Budaya. Dalam karya tulisnya, Benedicta mengangkat isu pelestarian budaya lokal, khususnya mulai hilangnya penggunaan sampe sebagai wadah tradisional makanan, terutama papeda, seiring maraknya penggunaan wadah berbahan plastik.
Melalui tulisannya, Benedicta menyoroti bahwa sampe tidak hanya berfungsi sebagai alat atau wadah makanan, tetapi juga memiliki nilai budaya, filosofi, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Papua khususnya di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Namun, perkembangan zaman dan masuknya produk plastik dinilai telah menggeser kebiasaan masyarakat dalam menggunakan wadah tradisional tersebut.
Ia menekankan bahwa penggunaan wadah plastik memang dianggap lebih praktis, tetapi di sisi lain berdampak pada menurunnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga tradisi serta lingkungan. Menurutnya, sampe sebagai wadah alami lebih ramah lingkungan dan menjadi identitas budaya yang perlu terus dilestarikan.
Ketua Komunitas Kintal Rum Fararur, Onesias Chalvox Urbinas mengatakan kegiatan ini lahir dari diskusi-diskusi sederhana di ruang tongkrongan yang kemudian berkembang menjadi ruang aktivitasi budaya yang nyata bagi para adik-adik pelajar.
“Gerakan ini hanya pemantik. Harapannya, semakin banyak pihak yang melihat pentingnya kegiatan seni budaya seperti ini. Sama hal dalam sambutan bapak Kapolres tadi, kegiatan ini jangan berhenti di sini saja. Ini harus menjadi pemicu atau trigger bagi gerakan budaya yang lebih besar,” ungkap Onesias yang kerab dikenal dengan Epo D’Fenomeno sebagai nama panggungnya.
Epo menyampaikan, kerja-kerja budaya tidak bisa disamakan dengan kegiatan yang memiliki dukungan operasional besar. Sebagian besar inisiatif seperti ini digerakkan oleh semangat komunitas yang bekerja secara mandiri dan sukarela.
“Saya berharap adanya keterlibatan pemerintah daerah dan dinas terkait melalui cara-cara kreatif dan kolaboratif dengan praktisi serta komunitas budaya. Jangan sampai transformasi digital membuat bahasa daerah semakin jarang digunakan, bahkan dalam lingkungan keluarga sendiri,” katanya.
Epo menilai, literasi budaya melalui tulisan menjadi sangat penting untuk menyeimbangkan arus informasi digital yang cenderung vulgar dan instan. Melalui lomba menulis ini, Komunitas Kintal Rum Fararur ingin membuka ruang eksplorasi budaya yang lebih mendalam dan bernarasi.
“Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi budaya yang berkelanjutan. Kedepan, kami ingin ada tujuan dan output yang jelas. Bukan hanya lomba, tetapi pergerakan informasi budaya melalui media digital, ruang kelas, dan narasi literasi yang lebih khusus,” lugasnya.
Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen menekankan pentingnya peran generasi muda Papua dalam menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai budaya lokal melalui tulisan, tidak hanya dari sisi seni, tetapi juga kuliner dan cerita kehidupan masyarakat. Menurutnya, kekayaan budaya Papua selama ini masih banyak diwariskan secara lisan dan belum terdokumentasi secara baik.
“Contohnya perbedaan cara masyarakat di berbagai daerah, seperti Tanah Merah dan Sentani, dalam memaknai papeda merupakan identitas budaya yang perlu digali dan ditulis agar tidak hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, saya mendorong kegiatan literasi budaya dilakukan secara tematik dan berkelanjutan. menulis budaya, meski dimulai dari hal kecil, akan berdampak besar jika dilakukan secara konsisten,” ungkapnya.
Sebatas diketahui, Komunitas Kintal Rum Fararur menyelenggarakan lomba karya tulis dengan tema Corong Literasi Berbasis Budaya tingkat pelajar se Tanah Tabi. Dimana yang keluar jadi pemenang pertama Benedicta Kumanireng, juara kedua Zaskia Clara dan juara ketiga Vina Kabak.
Lalu dalam momen penyerahan hadiah yang diselenggarakan di kedai Kintal X BM di Kotaraja Luar, Abepura, Kamis (18/12/2025), Komunitas Kintal Rum Fararur juga menyelenggarakan Lomba RAP Akapela “Berbasis Budaya”. Yang keluar menjadi pemenang juara pertama Wahyu Topa alias (nama panggung) Peng, juara kedua Gesler Pagu alias Casper, juara ketiga Rein Robi Yohame alias Slim Royox.
Penulis : Roy
Editor : Gin
Sumber Berita: Redaksi















