Warga Nduga Pertanyakan Penutupan Operasi Pencarian Tanpa Musyawarah

- Penulis

Sabtu, 22 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WAMENA — Keluarga korban bencana longsor dan banjir di Distrik Dal dan Mebrok, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan sangat merasa kecewa atas ditutupnya operasi pencarian oleh pemerintah setempat.

“Saya bagian dari keluarga korban sangat merasa kecewa atas tindakan pemerintah, Bupati putra daerah, Kepala Dinas putra daerah, tetapi penutupan secara terpaksa ini kami keluarga korban sangat kecewa besar,” ungkap Ketua Fraksi Gabungan Nduja, Tarni Wandikbo, Sabtu (22/21/2025)

Tarni Wandikbo menjelaskan, semua pimpinan yang ada di Kabupaten Nduga baik itu Eksekutif maupun lembaga Legislatif anak-anak putra daerah yang sangat tau dan paham kondisi iklim yang ada di Distrik Dal dan Mebrok, tetapi secara resmi sudah ditutup dalam pencarian korban bencana longsor dan banjir.

Atas kejadian ini sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan surat terbuka untuk penanganan, namun sampai sekarang surat itu tidak diindahkan oleh pemerintah, baru hari ini secara resmi ditutup.

“Khusus distik mebrok itu kita tidak bisa berkata-kata di media saja, tetapi kita harus turun ke lapangan, dan melihat langsung apa yang yang harus dilakukan oleh pemerintah, lalu melakukan penutupan,” jelasnya.

Menurutnya, selain dari posko utama di distrik dal dan Mebrok, kelurga korban buka posko di Keneyam dan Wamena, serta pelajar mahasiswa kota study Jayawijaya turun lapangan, namun tidak mendapatkan solusi, tetapi keterlibatan pemerintah itu yang bisa mendapatkan kesimpulan untuk penanganan ini.

“Sehingga tindakan saudara Bupati dan Saudara Kepala Dinas ini sangat mengecewakan, saya sebagai keluarga korban 8 orang di distrik mebrok, dan saya juga keluarga korban 15 orang di distrik dal sangat mengecewakan dalam penanganan kasus ini l,” kesalnya.

Tarni menyebutkan, sebanyak 8 orang yang korban itu sampai saat ini satupun tidak ditemukan tulang belulang mereka, sehingga, apa yang harus mereka dilakukan, karena ini kehilangan nyawa manusia.

Atas tindakan pemerintah ini, point pertama adalah kami anak-anak adat atau anak daerah akan terganggu dalam kehidupan.

Poin kedua adalah kenapa pemerintah lakukan penutupan tanpa koordinasi semua tokoh dan elemen masyarakat setempat, karena mereka sedang menunggu perhatian dari pemerintah.

Oleh sebab itu, pihak pemerintah mohon diperhatikan dan meninjau kembali bagian ini secara serius, karena masyarakat setempat sedang dalam proses pencarian dan berduka. (*)

Penulis : Gin

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Keluarga Besar Polres Intan Jaya Salurkan Bantuan bagi Pengungsi di Sugapa
Aksi Solidaritas PKK: BAMA dan Pakaian Layak Pakai untuk Pengungsi
Kemendagri Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Konflik Wamena
Quick Wins BPJS Kesehatan Hadirkan Skrining Kesehatan dan Pemantauan Gizi di Jayapura
Keluarga Batak Jayawijaya Hadir Bawa Harapan dan Dukungan bagi Pengungsi
Wamendagri Bersama Gubernur Papua Pegunungan Pastikan Penanganan Pascakonflik Berjalan Cepat
Ibadah Syukuran & Perpisahan SMP Negeri 1 Kenyam: Momen Penuh Haru dan Sukacita
Kapolda Papua Tengah Dorong Dukungan untuk Pabrik Pakan Ternak Lokal di Nabire

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 18:54 WIT

Keluarga Besar Polres Intan Jaya Salurkan Bantuan bagi Pengungsi di Sugapa

Senin, 18 Mei 2026 - 17:52 WIT

Aksi Solidaritas PKK: BAMA dan Pakaian Layak Pakai untuk Pengungsi

Senin, 18 Mei 2026 - 17:00 WIT

Kemendagri Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Konflik Wamena

Senin, 18 Mei 2026 - 10:36 WIT

Quick Wins BPJS Kesehatan Hadirkan Skrining Kesehatan dan Pemantauan Gizi di Jayapura

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:50 WIT

Keluarga Batak Jayawijaya Hadir Bawa Harapan dan Dukungan bagi Pengungsi

Berita Terbaru