Daerah

Tanpa MoU, Warga Yalimo Terancam Tak Bisa Berobat di RSUD Wamena

Wamena, 26 November 2025 — Demi menyelamatkan nyawa warganya, Ketua Komisi Satu DPR Papua Pegunungan, Sebulon Meik, rela menjadi jaminan pribadi bagi pasien asal Kabupaten Yalimo yang membutuhkan perawatan di RSUD Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Langkah ini terpaksa diambil karena hingga kini Pemerintah Kabupaten Yalimo belum menjalin kerja sama resmi dengan RSUD Wamena. Akibatnya, pasien asal Yalimo yang datang berobat ke rumah sakit rujukan utama di ibu kota provinsi Papua Pegunungan itu kerap terkendala biaya, meskipun telah memiliki KTP dan BPJS.

“Setiap pasien dari Yalimo harus membuat surat pernyataan dan bahkan menjadikan seragam saya sebagai jaminan agar bisa dilayani dan dioperasi,” ungkap Sebulon Meik kepada wartawan di Wamena.

Salah satu kasus yang menyentuh hati adalah seorang anak kecil korban tembakan senapan angin. Karena tidak adanya kerja sama antara Pemkab Yalimo dan RSUD Wamena, sang anak harus dirawat di rumah sakit swasta dengan biaya mencapai Rp10 juta. Dalam kondisi darurat itu, Sebulon Meik turun tangan langsung, menjadi penjamin dan berjanji akan membayar biaya operasi.

“Ini bukan pertama kali. Kami dari DPR Papua Pegunungan asal Yalimo sering harus menggunakan dana pribadi untuk membantu warga yang sakit,” tambahnya.

Menurut Meik, sebagian besar warga Yalimo berdomisili di Wamena atau datang dari kampung untuk berobat. Namun, karena Pemkab Yalimo hanya mengalokasikan anggaran untuk RSUD ERDABI di Elelim, banyak pasien kesulitan mendapatkan layanan kesehatan yang memadai, terutama dalam kasus darurat yang memerlukan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap.

“RSUD Wamena adalah rumah sakit utama di ibu kota provinsi. Aksesnya lebih mudah, fasilitasnya lebih lengkap, dan menjadi rujukan bagi banyak kabupaten pegunungan seperti Yahukimo, Lanny Jaya, Nduga, Tolikara, dan Mamberamo Tengah,” jelasnya.

Meik mendesak Pemkab Yalimo, khususnya Dinas Kesehatan, untuk segera menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan RSUD Wamena. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan hanya penting, tapi mendesak, demi menjamin hak dasar masyarakat atas layanan kesehatan yang layak.

“Kalau ini tidak segera dilakukan, masyarakat Yalimo akan terus kewalahan. RSUD Wamena adalah satu-satunya rumah sakit besar di provinsi ini. Jangan biarkan rakyat menderita karena urusan administrasi,” tegasnya.

Dengan suara lantang dan penuh empati, Sebulon Meik menutup pernyataannya dengan harapan besar: “Saya hanya ingin masyarakat Yalimo bisa berobat dengan tenang, tanpa harus menjadikan nyawa sebagai taruhan.”

Redaksi Potret Papua

Recent Posts

Kapolda Papua Tengah: Hari Lahir Pancasila Momentum Perkuat Persatuan dan Pengabdian untuk Bangsa

Nabire – Dalam momentum Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol.…

37 menit ago

Operasi Cinta Damai Noken, Polres Puncak Hadirkan Kepedulian dan Kedekatan dengan Warga Misimaga

Jayapura – Kehadiran Polri melalui Operasi Cinta Damai Noken 2026 kembali dirasakan langsung manfaatnya oleh…

6 jam ago

Ledakan Diduga Bom PD II di Biak: 5 Tewas, 3 Hilang, dan 6 Rumah Hancur

Jayapura– Polda Papua melalui Polres Biak Numfor bergerak cepat menangani peristiwa ledakan yang diduga berasal…

19 jam ago

Terduga Anggota KKB Kodap VIII Intan Jaya Berinisial EK Diamankan di Kampung Bilogai

Sugapa – Personel Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 mengamankan seorang pria berinisial EK (18) yang…

22 jam ago

BCA Gelar Genera-Z Berbakti 2026, Mahasiswa UNCEN dan UNAIR Adu Inovasi Bangun Desa Wisata

POTRETPAPUA.COM, JAKARTA – Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi salah satu lokasi…

2 hari ago

Youth Camp HKBP Papua Dorong Kreativitas Generasi Muda Lewat Ecoprint

Jayapura – Sebanyak 160 peserta mengikuti penyuluhan dan pelatihan ecoprint dalam kegiatan Youth Camp dan…

2 hari ago