Seminar HUT Kejati Papua ke-80: Fokus pada Follow the Asset dan Follow the Money

- Penulis

Rabu, 27 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAYAPURA- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua menggelar kegiatan Seminar Sehari tentang Follow the Asset dan Follow the Money melalui Deferend Prosecation Agreement (DPA) dalam penanganan perkara pidana di Kantor Kejati Papua, Selasa (26/8/2025).

Kegiatan Seminar Sehari yang dilaksanakan oleh Kejati Papua dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kejaksaan Tinggi Papua yang ke 80 tahun.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Papua, Hendrizal Husin mengatakan, dalam rangka mengikuti perkembangan penegakan hukum saat ini di masyarakat, maka salah satu pendekatan yang dilakukan adalah melalui DPA.

Salah satu yang menjadi hambatan kata Hendrizal saat ini adalah bagaimana mengembalikan kerugian negara dari tindak pidana korupsi yang terjadi.

“Kami mengadopsi berbagai pendekatan, salah satunya melalui DPA ini. Dengan DPA ini kita bisa negosiasikan untuk pengembalian kerugian negara. Bahkan meningkatkan efektivitas dan efesiensi penegakan hukum dan bisa mengembalikan kerugian negara lebih cepat dan bisa memberikan denda kepada perusahaan serta perbaikan tata kelola perusahaan supaya lebih memperhatikan proses produksinya,” jelasnya.

Menurut Hendrizal, ada beberapa kendala yang dialami oleh Kejati Papua dalam mengungkapkan kasus korupsi yang terjadi di wilayah Papua, salah satunya adalah letak geografis dan kurangnya jaksa. Hal inilah yang membuat kejaksaan belum optimal melakukan upaya pemberantasan korupsi di wilayah Papua.

“Faktor penghambat, yaitu pertama kondisi geografis wilayah Papua, sehingga kadang kami susah menghadirkan saksi-saksi untuk pengungkapan sebuah kasus korupsi. Selain itu, tenaga jaksa di Papua yang masih kurang,” jelasnya.

Hendrizal menegaskan bahwa saat ini kejaksaan bukan hanya fokus menahan orang, karena perbuatan tindak pidana korupsi, namun lebih dari itu adalah bagaimana memulihkan keuangan negara dengan pengembalian keuangan negara, sebab jika banyak yang ditangkap akan menjadi beban negara tentunya.

“Dengan Deferend Prosecation Agreement (DPA) ini tentunya kedepan, kami bisa jadikan sebagai rujukan, untuk melakukan penanganan kasus pidana korupsi di Papua dan mengontrol perusahaan-perusahaan yang ada, sehingga tidak ada kerugian negara yang terjadi akibat korupsi,” ujarnya.

Dia menyatakan, perlu kolaborasi dengan berbagai pihak, baik praktisi seperti Pengadilan dan akademisi, sehingga tidak hanya sebagai lembaga hukum, tetapi proses kajian dan analisis dari akademisi sangat penting, untuk memberikan masukan, terkait hasil kajian yang telah dilakukan mereka selama ini.

“Saya kira kolaborasi sangat penting, baik kejaksaan, pengadilan dan akademisi, sehingga bisa saling memberikan masukan dalam rangka penanganan kasus tindak pidana korupsi di Papua,” kata Hendrizal.

Perlu diketahui bahwa Kejaksaan Tinggi Papua telah melakukan penyitaan terhadap uang dan aset dari tindak pidana korupsi yang terjadi di Papua.

Menurut Hendrizal, ada puluhan miliar yang sudah disita oleh Kejati Papua, guna mengembalikan kerugian negara dari hasil tindak pidana korupsi yang dilakukan di Papua.

“Kalau sampai sekarang untuk uang sudah kami sita 35 miliar rupiah dan aset ada 40 miliar lebih dari Bank Papua. Sedangkan, kasus lain masih dihitung besaran aset yang disita,” ungkapnya.

Penulis : Gin

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Kabupaten Nduga Raih Penghargaan Mandaya Awards 2026, Diakui Sebagai Pemerintahan Kabupaten Terbaik dalam Upaya Penurunan Kemiskinan Nasional
Bupati Puncak Jaya Yuni Wonda Resmi Buka Latsar CPNS Formasi 2024, 665 Peserta Didorong Menjadi ASN Profesional, Berintegritas dan Siap Melayani Masyarakat
Polemik Penetapan Anggota DPRK Jalur Otsus Mengemuka, Warga Lima Wilayah Adat Jayawijaya Tuntut Penjelasan Gubernur Papua Pegunungan
Polres Jayawijaya Tingkatkan Patroli Pencegahan Kejahatan 3C, Personel Sisir Kawasan Bandara hingga Pasar Tradisional di Wamena
Sat Binmas Polres Jayawijaya Imbau Pelajar SMKS YAPESLI Wamena Jauhi Narkoba dan Bijak Bermedia Sosial
Polda Papua Tengah Kerahkan Operasi Patuh Noken 2026 Selama 14 Hari, Pengendara Melawan Arus hingga Pelaku Balap Liar Jadi Sasaran Utama
BMKG Catat 788 Titik Panas di Papua Pegunungan, Kabut Asap Ganggu Penerbangan
Kabut Asap Karhutla Masih Selimuti Wamena, Penerbangan Penumpang dan Kargo Belum Kembali Normal hingga Akhir Oktober

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:46 WIT

Kabupaten Nduga Raih Penghargaan Mandaya Awards 2026, Diakui Sebagai Pemerintahan Kabupaten Terbaik dalam Upaya Penurunan Kemiskinan Nasional

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:38 WIT

Bupati Puncak Jaya Yuni Wonda Resmi Buka Latsar CPNS Formasi 2024, 665 Peserta Didorong Menjadi ASN Profesional, Berintegritas dan Siap Melayani Masyarakat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:15 WIT

Polemik Penetapan Anggota DPRK Jalur Otsus Mengemuka, Warga Lima Wilayah Adat Jayawijaya Tuntut Penjelasan Gubernur Papua Pegunungan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:35 WIT

Polres Jayawijaya Tingkatkan Patroli Pencegahan Kejahatan 3C, Personel Sisir Kawasan Bandara hingga Pasar Tradisional di Wamena

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:32 WIT

Sat Binmas Polres Jayawijaya Imbau Pelajar SMKS YAPESLI Wamena Jauhi Narkoba dan Bijak Bermedia Sosial

Berita Terbaru