Timika – Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini menegaskan pengamanan objek vital nasional PT Freeport Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan respons setelah gangguan keamanan terjadi. Deteksi dini, kesiapsiagaan personel hingga sinergi seluruh pemangku kepentingan harus diperkuat untuk memastikan situasi keamanan tetap kondusif.
Penegasan tersebut disampaikan Kapolda saat memimpin Analisa dan Evaluasi (Anev) Sistem Pengamanan Objek Vital Nasional PT Freeport Indonesia dengan tema “Sinkronisasi Langkah Teknis dan Taktis Penanganan Situasi Kamtibmas” di Timika, Kabupaten Mimika, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolda Papua Tengah Kombes Pol. Gustav R. Urbinas, para Pejabat Utama Polda Papua Tengah, para Kapolres jajaran, Senior Technical Advisor PT Freeport Indonesia Brigjen Pol. (Purn.) Bonafisua Tampoi serta jajaran manajemen keamanan PT Freeport Indonesia.
Kapolda mengatakan, kegiatan Anev menjadi bagian penting untuk mengevaluasi pelaksanaan Operasi Amole I Tahun 2026 Polda Papua Tengah, yang memiliki tugas strategis dalam menjamin keamanan objek vital nasional sekaligus mendukung terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.
“Dinamika kamtibmas serta potensi gangguan keamanan membutuhkan pola pengamanan yang terukur dan mampu beradaptasi dengan perkembangan situasi. Sehingga Saya tidak ingin kita bekerja hanya setelah terjadi gangguan. Kita harus mampu membaca situasi sebelum gangguan itu terjadi,” tegas Jermias.
Kapolda meminta seluruh jajaran melakukan evaluasi secara objektif dan terukur terhadap seluruh tahapan operasi, mulai dari perencanaan, kesiapan personel dan sarana prasarana, kegiatan preventif, patroli, pengawalan hingga respons terhadap gangguan keamanan.
“Harus diperkuat fungsi intelijen, monitoring wilayah, pemetaan potensi kerawanan serta komunikasi dengan masyarakat dan seluruh stakeholder. Setiap informasi, sekecil apa pun yang berpotensi mengganggu keamanan, harus segera dianalisis dan ditindaklanjuti sesuai prosedur,” ujarnya.
Selain deteksi dini, Kapolda mengingatkan seluruh personel Operasi Amole agar menjaga kesiapsiagaan, disiplin, kewaspadaan dan profesionalisme. Personel diminta memahami tugas masing-masing serta tidak meremehkan maupun melebih-lebihkan ancaman.
“Dalam pelaksanaan tugas, keselamatan personel juga menjadi perhatian utama. Para komandan diminta mengetahui keberadaan dan kondisi anggotanya, memastikan komunikasi berjalan baik, dukungan logistik terpenuhi serta setiap pergerakan personel direncanakan secara matang,” lugasnya.
Kapolda juga menegaskan bahwa pengamanan Freeport tidak dapat dilakukan Polri seorang diri. Sinergi TNI-Polri, pemerintah daerah, PT Freeport Indonesia, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan seluruh unsur terkait harus terus diperkuat.
“Hindari ego sektoral, kedepankan koordinasi dan kolaborasi. Keamanan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, Jermias meminta personel tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan tugas. Kehadiran aparat di tengah masyarakat, kata dia, harus memberikan rasa aman dan bukan sebaliknya.
“Laksanakan tugas dengan senyum, sapa dan salam. Setiap tindakan kepolisian harus profesional, proporsional, terukur dan sesuai ketentuan hukum. Kita ingin masyarakat melihat Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat,” katanya.
Tak kalah penting, Kapolda mengingatkan seluruh personel untuk menjaga integritas dan nama baik institusi. Ia meminta para Kasatgas dan komandan melakukan pengawasan melekat guna mencegah terjadinya pelanggaran disiplin, kode etik maupun tindak pidana selama pelaksanaan operasi.
“Satu orang melakukan pelanggaran, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh institusi. Karena itu, jaga sikap, perilaku dan tutur kata serta jangan melakukan tindakan yang dapat mencederai kepercayaan masyarakat dan merusak nama baik Polri,” pungkasnya.
Penulis : Gin
Editor : A. Buendi
Sumber Berita: Polda Papua Tengah















