WAMENA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Hingga Senin (26/10/2026), penerbangan penumpang dan kargo belum kembali normal karena jarak pandang yang belum memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.
Manager Trigana Air Service Wamena, Michael Biduri, mengatakan penerbangan penumpang yang dijadwalkan dua kali hanya terealisasi satu kali. Sementara itu, penerbangan kargo yang biasanya dijadwalkan tiga hingga empat kali hanya dapat beroperasi dua kali.
“Penerbangan kita sampai saat ini masih di atas pukul 12.00 WIT. Belum bisa dilakukan sejak pagi hari, sehingga dampak karhutla ini masih sangat terasa karena penerbangan belum normal,” ungkap Michael saat ditemui di Bandara Wamena, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, pesawat dari Jayapura menuju Wamena terkadang baru dapat terbang sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 WIT. Maskapai tetap mengacu pada informasi dan peringatan BMKG, terutama terkait jarak pandang yang harus memenuhi batas minimum lima kilometer.
Michael menjelaskan, tiga hari sebelumnya kondisi kabut asap sempat membaik sehingga penerbangan dapat dimulai sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIT. Namun, kebakaran hutan yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Jayawijaya, seperti Wadangku, Pugima, dan Walelagama, menyebabkan kabut asap kembali mengganggu penerbangan.
Kondisi cuaca yang belum menentu juga membuat Trigana Air Service masih membatasi penerimaan barang basah. Kebijakan ini diterapkan untuk menghindari kerusakan barang apabila pesawat tidak dapat diberangkatkan sesuai jadwal.
“Kalau kita terima barang basah, tetapi pesawat tidak bisa terbang, barang tersebut bisa rusak dan kerugiannya kembali kepada pemilik barang,” jelasnya.
Dampak keterlambatan juga dirasakan penumpang. Sejumlah penumpang yang penerbangannya dibatalkan harus menunggu hingga keesokan harinya, sementara penumpang lainnya mengalami penundaan keberangkatan sampai hari berikutnya.
Di tengah kondisi tersebut, Trigana Air Service memprioritaskan pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) dan sembako dari Bulog untuk menjaga pasokan kebutuhan penting di Jayawijaya. Pasokan BBM, khususnya untuk PLN, perlu dijaga agar operasional pembangkit listrik tidak terganggu.
Michael menyarankan distributor barang basah memanfaatkan penerbangan kargo lain atau penerbangan nonkomersial, termasuk pesawat Hercules yang selama ini turut membantu angkutan udara ke wilayah Jayawijaya.
Ia berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga jadwal penerbangan dari Jayapura ke Wamena dapat kembali normal dan distribusi barang serta mobilitas masyarakat berjalan lancar.
Penulis : Gin
Editor : A. Buendi















