Karubaga, Tolikara — Kabar membanggakan datang dari jantung Pegunungan Papua. Yosua Noak Douw, pemuda berbakat asal Karubaga, Kabupaten Tolikara, berhasil menorehkan prestasi gemilang di dunia sastra nasional. Puisinya terpilih sebagai salah satu dari 150 karya terbaik dalam Antologi Puisi “Air Mata Sumatera”, sebuah proyek literasi berskala nasional yang digagas Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.
Antologi ini mengangkat tema bencana alam yang melanda Sumatera pada akhir 2025, dan menjadi wadah ekspresi sekaligus solidaritas bagi para penyintas. Proses kurasi dilakukan secara ketat oleh tiga kurator nasional ternama: Sulaiman Juned, Muhammad Subhan, dan Jarwansya.
Dalam wawancaranya, Yosua menyampaikan bahwa puisi adalah “jembatan antara realitas sosial dan suara nurani.” Ia menambahkan, “Antologi ini menunjukkan bahwa sastra tumbuh dari Sabang sampai Merauke… Tidak ada sekat primordial dalam sastra; yang ada hanyalah kejujuran suara dan kemanusiaan.”
“Air Mata Sumatera” bukan sekadar kumpulan puisi. Buku ini juga menjadi sarana penggalangan dana untuk membantu korban bencana, menjadikannya karya sastra yang tak hanya menyentuh hati, tetapi juga berdampak nyata. Peluncuran resmi antologi ini dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Januari 2026 di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Prestasi Yosua menjadi bukti bahwa suara dari pelosok negeri, termasuk dari tanah tinggi Papua, memiliki kekuatan untuk menggema di panggung nasional. Ini adalah kemenangan bagi semangat literasi, keberagaman, dan kemanusiaan.
Penulis : Gin
Editor : Tim Redaksi















