Otonomi Khusus Papua Gagal Redam Konflik, Kekerasan Justru Meningkat

- Penulis

Sabtu, 22 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Otonomi Khusus (Otsus) Papua lahir sebagai harapan besar, sebuah jalan tengah antara tuntutan kemerdekaan dan keinginan tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, setelah 24 tahun berjalan, harapan itu tampaknya masih jauh dari kenyataan. Alih-alih menjadi solusi, Otsus justru menjadi simbol kegagalan dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan di tanah Papua.

 Otsus: Janji Politik yang Terlupakan
Menurut Tokoh muda Papua Pegunungan, Nioluen Kotouki, S.IP Otsus digagas sebagai bentuk afirmasi terhadap hak-hak orang asli Papua. Dalam kerangka “Lex Specialis”, UU Otsus seharusnya memberikan kewenangan luas bagi Papua untuk mengatur dirinya sendiri secara lebih adil dan kontekstual. Namun, dalam praktiknya, kewenangan itu dipangkas oleh dominasi UU sektoral dan sentralisme kebijakan dari pemerintah pusat. Dana Otsus pun sering kali dipahami sebatas uang, bukan sebagai instrumen perubahan struktural dan sosial.

Realitas yang Menyedihkan

Nioluen menjelaskan Harapan akan berakhirnya kekerasan, perampasan hak, dan eksploitasi sumber daya alam ternyata tidak terwujud. Justru, pembunuhan, penculikan, dan tambang ilegal semakin marak. Militerisasi wilayah Papua dengan pasukan non-organik memperkeruh suasana dan memperdalam luka sosial. Di tengah janji pembangunan dan perlindungan, orang asli Papua masih merasa terpinggirkan dan kehilangan identitasnya.

Kegagalan Tata Kelola dan Afirmasi
Kepala daerah di Tanah Papua tidak memiliki ruang gerak yang cukup untuk merancang kebijakan sesuai kebutuhan lokal. Perencanaan anggaran yang dikendalikan pusat membuat program-program Otsus tidak menyentuh akar persoalan. Transfer dana yang dilakukan di akhir tahun menunjukkan lemahnya komitmen terhadap pembangunan yang terencana dan berkelanjutan.

Saatnya Berbenah, Bukan Menambah Luka
Jika Otsus ingin tetap relevan, maka harus ada evaluasi menyeluruh dan reformasi mendalam. Pemerintah pusat perlu membuka ruang dialog sejati, bukan sekadar formalitas. Pendekatan militer harus diganti dengan pendekatan kemanusiaan dan keadilan sosial. Orang asli Papua harus menjadi subjek, bukan objek, dalam pembangunan dan pengambilan keputusan.

“Otonomi Khusus seharusnya menjadi jembatan menuju perdamaian dan kesejahteraan. Namun jika jembatan itu rapuh dan tidak mampu menahan beban harapan rakyat Papua, maka sudah saatnya kita membangun ulang fondasinya—dengan kejujuran, keberpihakan, dan keberanian politik,”Tegasnya

Penulis : Gin

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Senjata Api Polisi Dikembalikan, Polres Tolikara Apresiasi Peran Tokoh Masyarakat
Operasi Damai Cartenz Tegaskan Langkah Terukur Hadapi Gangguan Keamanan Yahukimo
Perempuan Papua Pegunungan Teladani Kartini, Perkuat Silaturahmi Lewat Halalbihalal DWP
Tak Ada Penahanan Anggaran, Pemprov Papua Pegunungan Tegaskan Persoalan Berawal dari Kesalahan Penyusunan RKA MRP
Bupati Lanny Jaya Hadiri Sidang PAW DPRK, Tegaskan Komitmen Demokrasi
Sebanyak 8 Anggota DPRK Lanny Jaya Jalur Otsus Resmi Dilantik
Dua Asesor LAM Kependidikan Nilai Mutu Pendidikan di STT Arastamar Wamena
BPS Puncak Jaya Sosialisasikan Sensus Ekonomi 2026, Warga Diajak Berkontribusi untuk Pembangunan

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 06:56 WIT

Senjata Api Polisi Dikembalikan, Polres Tolikara Apresiasi Peran Tokoh Masyarakat

Kamis, 16 April 2026 - 06:19 WIT

Operasi Damai Cartenz Tegaskan Langkah Terukur Hadapi Gangguan Keamanan Yahukimo

Rabu, 15 April 2026 - 21:03 WIT

Perempuan Papua Pegunungan Teladani Kartini, Perkuat Silaturahmi Lewat Halalbihalal DWP

Selasa, 14 April 2026 - 20:32 WIT

Tak Ada Penahanan Anggaran, Pemprov Papua Pegunungan Tegaskan Persoalan Berawal dari Kesalahan Penyusunan RKA MRP

Selasa, 14 April 2026 - 20:19 WIT

Bupati Lanny Jaya Hadiri Sidang PAW DPRK, Tegaskan Komitmen Demokrasi

Berita Terbaru