Oleh: Eithel Caroline Infandi S,E, Elisabet Kareth, Agnes Monika Heatubun, Avensia Halitopo, Catur Yusuf Septio, Daud Wandik, Ila Wandik, Krito Jhon Ito Goo, Susi Yelipele, Thresyah Bertina Endama
Prolog
Pembangunan ekonomi kampung dilakukan melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan. Salah satu upayanya adalah pembentukan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) sebagai lembaga ekonomi untuk mengelola aset dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta Pendapatan Asli Kampung (PAK), sebagaimana diatur dalam UU No. 6 Tahun 2014 Pasal 87 dan PP No. 11 Tahun 2021.
Hasil evaluasi KKN di Kampung Tobati menunjukkan bahwa BUMKam belum beroperasi secara optimal. Beberapa unit usaha tidak lagi aktif meskipun telah menerima penyertaan modal, sehingga fungsi BUMKam sebagai penggerak ekonomi kampung dan peningkat Pendapatan Asli Kampung belum berjalan secara maksimal.
Mahasiswa KKN Universitas Cenderawasih berperan mendampingi penguatan BUMKam melalui observasi, sosialisasi, dan penyusunan rekomendasi berbasis potensi lokal. Esai ini mengkaji penyebab ketidakaktifan BUMKam Kampung Tobati serta strategi revitalisasinya untuk mendukung perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Isi
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumen selama pelaksanaan KKN di Kampung Tobati, Kota Jayapura, diketahui bahwa Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) dalam kondisi tidak stabil. Meskipun telah memiliki struktur kepengurusan dan menerima penyertaan modal dari pemerintah kampung, operasi BUMKam tidak berjalan sehingga kepengurusannya dinonaktifkan. Akibatnya, BUMKam belum mampu menjalankan fungsinya sebagai penggerak ekonomi kampung, padahal Kampung Tobati memiliki potensi besar di sektor perikanan, wisata pesisir dan budaya, kerajinan, serta sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan perspektif Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi, permasalahan utama BUMKam bukan terletak pada keterbatasan potensi ekonomi, melainkan pada belum optimalnya tata kelola kelembagaan. Fungsi manajemen belum berjalan efektif, administrasi dan akuntabel, serta potensi lokal belum dimanfaatkan secara optimal sehingga belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun Pendapatan Asli Kampung (PAK).
Kondisi ini tidak sejalan dengan amanat UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2021 yang menekankan pengelolaan BUMDes/BUMKam secara profesional, transparan, akuntabel dan berkelanjutan. Penelitian Ramadam et al. (2013) dan Prabowo (2014) juga menunjukkan bahwa keberhasilan BUMDes/BUMKam ditentukkan oleh tata Kelola organisasi, kapasitas sumber daya manusia, partisipasi masyarakat, serta pengelolaan usaha berbasis potensi lokal yang didukung manajemen dan administrasi keuangan yang baik.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, mahasiswa KKN Universitas Cenderawasih melaksanakan observasi lapangan, wawancara dengan pemerintah kampung dan masyarakat, identifikasi potensi lokal, serta penyusunan rekomendasi pengembangan BUMKam. Hasil identifikasi menunjukkan kebutuhan utama masyarakat meliputi penyediaan air bersih, akses BBM bagi nelayan dan transportasi laut, sarana usaha, serta pengembangan pariwisata berbasis alam dan budaya.
Berdasarkan kondisi tersebut, tim KKN merekomendasikan pengembangan unit usaha BUMKam berupa depot air bersih, depot BBM, penyewaan aula kampung, jasa ojek laut, dan wisata berbasis potensi pesisir serta budaya Kampung Tobati.
Hasil identifikasi dan rekomendasi kemudian dipresentasikan melalui kegiatan sosialisasi yang melibatkan pemerintah kampung, Bamuskam, dan Penasehat BUMKam. Sosialiasi ini menjadi sarana diskusi untuk memperoleh masukkan dan membangun komitmen bersama dalam revitalisasi BUMKam. Dukungan serta masukkan dari peserta menjadi dasar penyempurnaan rekomendasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan, kondisi sosial, dan potensi Kampung Tobati.
Meskipun pelaksanaan KKN berlangsung dalam waktu terbatas dan belum memberikan perubahan langsung terhadap operasional BUMKam, kegiatan ini menghasilkan identifikasi permasalahan, pemetaan potensi lokal, serta rekomendasi pengembangan unit usaha sebagai acuan revitalisasi BUMKam oleh pemerintah kampung.
Bagi mahasiswa Universitas Cenderawasih, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat dalam pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal. Selain itu, mahasiswa memahami bahwa keberhasilan BUMKam tidak hanya bergantung pada modal, tetapi juga pada tata kelola, kepemimpinan, pastisipasi masyarakat, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan.
Epilog
Hasil KKN menunjukkan bahwa ketidakaktifan BUMKam Kampung Tobati disebabkan oleh lemahnya tata kelola, bukan minimnya potensi ekonomi. Melalui observasi dan penyusunan rekomendasi, mahasiswa KKN mendukung revitalisasi BUMKam yang keberhasilannya bergantung pada sinergi pemerintah kampung, masyarakat, dan pengurus agar BUMKam kembali menjadi penggerak ekonomi kampung secara berkelanjutan.
Pemerintah kampung perlu merevitalisasi BUMKam melalui kepengurusan yang kompeten, perencanaan usaha berbasis potensi lokal, serta pengembangan unit usaha prioritas. Keberhasilannya memerlukan dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan pendampingan perguruan tinggi secara berkelanjutan. (*)
Penulis Adalah Dosen Pendamping Lapangan Bersama Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang Berasal Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih
Penulis : Gin
Editor : Buendi















