Daerah

DPR Papua Pegunungan Minta Anggaran Perubahan APBD Rp 465 Miliar Direalisasikan Tepat Sasaran dalam 1 Bulan

WAMENA — Anggota Komisi IV DPR Papua Pegunungan, Fransina Daby, menegaskan agar alokasi anggaran Perubahan APBD sebesar Rp 465 miliar lebih dari dana Otonomi Khusus (Otsus) benar-benar direalisasikan secara tepat sasaran di delapan kabupaten. Pasalnya, waktu efektif penyerapan anggaran hanya tersisa sekitar satu bulan lebih.
Hal tersebut disampaikan Fransina Daby saat memberikan keterangan resmi kepada awak media di Wamena, Jayawijaya, Sabtu (31/10/2026).

Ia menekankan pentingnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pekerjaan Umum (PU) memanfaatkan anggaran publik ini demi kesejahteraan masyarakat secara langsung.
“Anggaran sebesar Rp 465 miliar ini sangat besar, dan penyerapannya harus betul-betul tersalurkan ke delapan kabupaten. Kami minta OPD terkait, terutama Pendidikan, Kesehatan, dan PU, menggunakannya secara bijak agar ada dampak nyata bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan warga,” ujar Fransina.

Soroti Mahasiswa Luar Negeri dan Krisis RSUD Wamena

Di sektor pendidikan, Politisi Partai Demokrat ini meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan segera merespon keluhan pembayaran beasiswa mahasiswa asal Papua Pegunungan yang tengah menempuh pendidikan di luar negeri.
“Mahasiswa kita di luar negeri adalah aset dan masa depan Papua Pegunungan. Banyak yang mengeluh terkait pembiayaan, maka Dinas Pendidikan harus segera memprioritaskan pembayaran mereka,” tegasnya.

Sementara pada sektor kesehatan, Fransina menyoroti minimnya sumber daya manusia (SDM) tenaga medis/dokter, keterbatasan obat-obatan, serta buruknya fasilitas penunjang di RSUD Wamena—termasuk kelayakan sarana sanitasi (WC) dan panjangnya antrean pelayanan medis.
“Masyarakat harus menunggu hingga empat hari hanya untuk bertemu dokter, bahkan tak jarang ada pasien yang tidak tertolong. Kami minta Dinas Kesehatan melengkapi fasilitas medis dan obat-obatan sesuai standar resep. Dana dari pusat harus dirapikan untuk menyelamatkan nyawa masyarakat,” jelasnya.

Dugaan Penyalahgunaan Anggaran PU dan Pertanyakan Predikat WTP BPK

Sorotan tajam turut diarahkan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Papua Pegunungan. Fransina membeberkan indikasi ketidaksesuaian pembangunan infrastruktur di lapangan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Salah satu contoh menonjol yakni proyek Pembangunan Jembatan Wolo di Kabupaten Jayawijaya yang dinilai tidak layak dan tidak dapat digunakan masyarakat, padahal realisasi pencairan anggaran disinyalir sudah mencapai 100 persen (sekitar Rp 39 miliar).
Ia juga menyayangkan sikap Kepala Dinas PU yang telah diundang hingga empat kali oleh Komisi IV DPR Papua Pegunungan untuk melakukan klarafikasi namun tidak pernah hadir.

“Sudah empat bulan lalu kami minta BPK memeriksa pembangunan Jembatan Wolo ini, tetapi sampai sekarang belum jelas sejauh mana prosesnya. Kami di DPR mempertanyakan dasar BPK memberikan predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), sementara temuan di lapangan masih ada kejanggalan dan titik koordinat proyek tidak pernah disampaikan sebagai fungsi pengawasan,” cetusnya.

Fransina menambahkan, jika lembaga pemeriksa di daerah dinilai tidak mampu menuntaskan kasus tersebut, ia mendesak aparat penegak hukum (APH) di tingkat pusat maupun daerah untuk mengambil langkah tegas.

“Jika BPK tidak mampu menindaklanjuti, saya minta resmi kepada BPK RI, KPK RI, Tipikor, dan Polda Papua untuk segera turun tangan mengambil alih dan memeriksa Kepala Dinas PU serta dugaan penyalahgunaan anggaran di lembaga terkait,” imbaunya.

Dampak Kekeringan El Nino dan Lesunya Ekonomi Pasar

Selain infrastruktur dan pelayanan dasar, Fransina mengingatkan Pemprov Papua Pegunungan untuk segera mengambil tindakan tanggap darurat terkait dampak bencana kekeringan El Nino yang memicu krisis pangan dan kekeringan perkebunan warga di 8 kabupaten.

Di sisi lain, lesunya perputaran uang dan terbatasnya lapangan kerja membuat aktivitas ekonomi jualan mama-mama di pasar menurun drastis, yang berimbas pada meningkatnya angka kriminalitas di Kota Wamena.

“Kegiatan yang sifatnya euforia dan menghabiskan anggaran sebaiknya dikurangi. Anggaran harus diarahkan langsung untuk memutar roda ekonomi masyarakat kecil di pasar, penjual bensin, pedagang eceran, serta menangani krisis pangan akibat kekeringan agar masyarakat tidak kelaparan,” tutup Fransina

Redaksi Potret Papua

Recent Posts

Puncak Jaya Raih Juara II Kategori Kopi Terbaik pada Festival Kopi Papua Tengah 2026 di Nabire

  MULIA, 30 Oktober 2026 – Kabupaten Puncak Jaya berhasil meraih prestasi membanggakan dalam ajang…

7 jam ago

Momentum Sumpah Pemuda ke-98, Barisan Merah Putih Papua Tengah Tegaskan Komitmen Menanamkan Patriotisme dan Cinta Tanah Air di Kalangan Pemuda

Nabire – Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Barisan Merah Putih Republik…

7 jam ago

Donatus Sembor Ingatkan Bahaya Lunturkan Nilai Sejarah di Era Digital, Pemuda Papua Tengah Diajak Menjadi Generasi Nasionalis dan Berkarakter

NABIRE – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Barisan Merah Putih Republik Indonesia Provinsi Papua Tengah mengajak…

8 jam ago

Peringati HKGB ke-74, Bhayangkari Daerah Papua Tengah Salurkan Beasiswa untuk 32 Anak Berprestasi di Nabire

NABIRE – Kepedulian terhadap masa depan generasi muda diwujudkan Bhayangkari Daerah Papua Tengah melalui penyaluran…

10 jam ago

Bangun Keamanan dari Hati Masyarakat, Kapolres Puncak Hadir Menyapa Warga dan Dengarkan Aspirasi Secara Langsung

ILAGA – Membangun keamanan tidak cukup hanya melalui patroli dan penegakan hukum. Kedekatan, komunikasi, serta…

10 jam ago

Polres Intan Jaya Selidiki Kasus Pencurian dan Pengerusakan di Kantor Bupati, Empat Kali Terjadi Sepanjang Tahun 2026

INTAN JAYA – Polres Intan Jaya terus melakukan penyelidikan terhadap kasus pencurian dan pengerusakan yang…

10 jam ago