Banjir & Longsor Bukan Takdir — Ini Kegagalan Sistem
Oleh: Ir. Edoward JPP, ST., M.Si., MT., IPM (Praktisi Geoteknik, Jalan & Jembatan)
Indonesia mengenal dua musim: kemarau dan hujan. Namun dalam beberapa hari terakhir, ratusan nyawa melayang. Rumah hanyut. Desa hilang. Jalan dan jembatan ambruk. Kita menyaksikan bencana di Aceh, Sumatera, dan kini—Papua.
Di Jayapura, Ringroad longsor. Ruas utama Abepura–Entrop tergerus dan bablas. Tapi kita masih sibuk menyebutnya “musibah alam.” Alasannya? Hujan deras. Debit air tinggi.
Maaf, ini bukan musibah alam. Ini hasil pembangunan yang nekat dan ceroboh—tanpa analisis dan evaluasi yang cermat dan terukur.
1. Tata Ruang Dihancurkan Demi Proyek
– Lereng rapuh dijadikan perumahan.
– Bantaran sungai disulap jadi pusat ekonomi.
– Kawasan resapan air dicor habis-habisan.
– Infrastruktur dibangun sepihak, tanpa kajian menyeluruh.
Ketika hujan ekstrem datang, alam hanya berkata:
“Kalian sendiri yang undang bencana ini.”
2. Infrastruktur Tanpa Perencanaan Komprehensif
– Drainase sempit, saluran tertutup minim pengendali.
– Sungai menyempit, daya tampung hilang.
– Penguatan lereng setengah hati, tanpa kajian teknis.
– AMDAL? Sering hanya formalitas.
– Geoteknik? Faktor keamanan diabaikan.
Alih-alih melindungi publik, infrastruktur justru memperparah bencana.
3. Hutan Gundul, Lereng Dipotong, SOP Dihilangkan
Begitu pohon ditebang, akar hilang. Air turun tanpa penahan. Bukit berubah jadi peluru lumpur. Jalan tertutup. Akses lumpuh total.
Dan setiap kali bukit “turun ke jalan” atau “turun ke kampung,” Pemprov dan Pemkot selalu kaget.
Padahal penyebabnya jelas: kita sendiri yang melepas remnya.
4. Sistem Peringatan Dini? Ada, Tapi Terlambat
– Sensor ada.
– Radar ada.
– Data ada.
– Himbauan ada.
– Staf ahli? Berhamburan.
Yang tidak ada:
– Koordinasi
– SOP lapangan
– Kesiapsiagaan masyarakat
– Tindakan cepat
– Tanggap darurat
– Anggaran
Kita baru heboh setelah korban berjatuhan. Terlambat.
5. Keselamatan Publik: Prioritas Terakhir
Yang dikejar:
– Anggaran
– Proyek
– Serapan
– Pencitraan
Yang tidak dikejar:
– Nyawa manusia
Padahal, kata orang bijak: “Lebih baik mencegah daripada mengobati.”
Dalam ilmu K3, keselamatan seharusnya jadi Bab Pertama, bukan lampiran.
6. Ini Bukan Bencana Alam. Ini Bencana Tata Kelola.
– Banjir bandang
– Longsor lereng
– Jalan dan jembatan bablas
– Ratusan nyawa melayang
Ini bukan takdir. Ini bencana tata kelola.
– Bencana pembangunan
– Bencana manajemen risiko
– Bencana kebijakan
– Bencana analisis yang tak terukur
– Bencana K3 yang diabaikan secara sistematis dan masif
7. Mau Berhenti Berkabung Setiap Musim Hujan?
Maka pemerintah—baik pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota—harus:
– Wajibkan K3 sejak tahap perencanaan, bukan hanya di proyek.
– Analisis dan evaluasi harus akurat dan terukur, bukan slogan.
– Analisis risiko jadi gerbang utama, bukan formalitas.
– Tata ruang jangan dilanggar demi kepentingan instan.
– Infrastruktur harus dirancang untuk skenario terburuk.
– Pengawasan harus profesional, bukan administratif.
– Reboisasi dan perlindungan hutan jadi program inti, bukan seremoni.
Jika tidak, bersiaplah:
Tiap tahun, bahkan tiap bulan, kita akan membaca berita duka.
Musim berganti, korban bertambah.
Duka di mana-mana.
Dan kita terus berpura-pura heran.
Padahal jawabannya sudah lama ada:
Pembangunan tanpa analisis, tanpa evaluasi, tanpa keselamatan—adalah undangan resmi untuk bencana.
Penulis : Gin
Editor : Tim Redaksi















