Anggota DPRK Nduga Leri Gwijangge Soroti Nasib Pengungsi di Hari Pengungsi Sedunia

- Penulis

Senin, 22 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WAMENA – Memperingati Hari Pengungsi Sedunia, Anggota DPRD Kabupaten Nduga, Leri Gwijangge, menyampaikan kondisi dan jumlah pengungsi asal Nduga yang telah hidup dalam pengungsian sejak 2 Desember 2018. Tercatat sebanyak 10.272 jiwa pengungsi Nduga kini berada di Wamena dan Kwiyawagi, sementara total pengungsi internal di seluruh Tanah Papua mencapai 122.931 jiwa.

Hal itu disampaikan Leri Gwijangge dalam momentum peringatan Hari Pengungsi Internasional, 20 Juni 2026. Ia mengatakan, pengungsi Nduga tersebar di delapan kabupaten/kota dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Jayawijaya sebagai kabupaten induk.

“Selamat Hari Pengungsi Sedunia bagi masyarakat yang terdampak konflik bersenjata di Kabupaten Nduga dan kabupaten-kabupaten lain di Tanah Papua. Sejak 2 Desember 2018 hingga kini, masyarakat saya, keluarga saya, orang tua, saudara-saudara, anak-anak, masih hidup dalam pengungsian,” ujar Leri Gwijangge, anggota DPRD Nduga dari Partai Perindo.

Dalam pernyataannya, Leri menegaskan bahwa penanganan pemerintah terhadap pengungsi belum serius, terutama dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

“Mereka hidup sangat susah, banyak yang meninggal di tempat pengungsian. Anak-anak, ibu-ibu, orang tua tidak diurus dengan baik. Pemerintah hanya memberi bantuan sembako dari tahun ke tahun, tetapi tidak pernah berpikir solusi permanen agar mereka bisa kembali ke kampung halaman,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa pemerintah daerah maupun provinsi tidak memiliki data akurat dan tidak melakukan pendataan secara baik.
“Kesehatan anak-anak dan ibu-ibu tidak diurus, pendidikan mereka tidak diperhatikan. Pemerintah hanya sekadar memberi bantuan sembako, tetapi tidak pernah berpikir bagaimana mengembalikan mereka ke tempat tinggal agar bisa beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Leri juga mengkritisi pernyataan pemerintah provinsi yang menyebut masyarakat enggan kembali karena anak-anak sudah bersekolah di tempat pengungsian.
“Itu bukan alasan. Pemerintah wajib mencari jalan agar masyarakat bisa kembali. Kabupaten dan provinsi ada karena ada masyarakat. Kalau masyarakat terus keluar, akar Kabupaten Nduga bisa hilang,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya koordinasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat untuk menangani masalah pengungsi.

“Kabupaten dan provinsi ada karena ada manusia. Pemerintah harus melihat persoalan pengungsi yang terus meningkat sejak 2018. Sampai hari ini tidak terurus dengan baik. Angka kematian sangat tinggi di tempat pengungsian, banyak anak-anak, bayi, balita, ibu-ibu, dan orang tua meninggal,” ungkapnya.

Dalam momentum Hari Pengungsi Sedunia, Leri meminta pemerintah daerah Nduga dan Papua Pegunungan untuk serius menangani nasib pengungsi.

“Bangunan fisik boleh megah, tetapi kalau manusianya tidak diurus, anggaran itu tidak bermanfaat. Banyak distrik kosong, masyarakat harus dikembalikan. Pelayanan selama ini hanya bantuan sembako jangka pendek, tidak pernah berpikir jangka panjang,” katanya.

Ia juga menyoroti penggunaan anggaran Otsus yang seharusnya diprioritaskan untuk manusia.

“Anggaran Otsus harus dipakai untuk mengatasi nasib pengungsi. Presiden, Panglima TNI, Kapolri, Menteri Pertahanan perlu mengevaluasi penanganan konflik di Papua, khususnya Nduga. Mobilisasi militer harus dikaji apakah menolong masyarakat sipil atau justru menambah trauma,” tegasnya.

Menurut Leri, usia pengungsian masyarakat Nduga kini sudah mencapai 7 tahun 6 bulan, dan akan genap 8 tahun pada Desember 2026.
“Kasihan, sudah hampir delapan tahun masyarakat Nduga terlantar. Banyak yang meninggal, tetapi pemerintah menutup mata. Ini harus dipikirkan dengan serius. Jangan sampai akar Kabupaten Nduga hilang karena masyarakatnya keluar semua,” pungkasnya.

Penulis : Gin

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

RSUD ELVRIDA SARA LANJUTKAN PROGRAM MAGANG TAHAP II DI RSUD MIMIKA, PERKUAT TRANSFORMASI MENUJU AKREDITASI
Kapolda Papua Tengah Pimpin Aksi Green Policing di Nabire, Gandeng TNI, KKSS dan Masyarakat Bersihkan Lingkungan serta Tanam Pohon
Pemberantasan Kejahatan Terus Digencarkan, Kejari Jayawijaya Musnahkan Barang Bukti dari 59 Kasus yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap
Sekda Papua Pegunungan Buka Rakor DPRK Mekanisme Pengangkatan, Dorong Pengawasan Otsus dan Pengelolaan Dana yang Transparan
Polres Jayawijaya dan Damkar Padamkan Kebakaran Rumah di Belakang Pasar Misi
Wabup Lanny Jaya Fredi Ginia Tabuni Ikuti Bimtek Nasional ASWAKADA di Kalimantan Barat, Perkuat Sinergi dan Harmonisasi Pemerintahan Daerah
Kantah Jayawijaya Terima Kunjungan Tim BPK RI, Audit Penataan Ruang Diperkuat untuk Dukung Ketahanan Pangan dan Energi
Kantah Jayawijaya Ikuti Monev dan Pembinaan Kinerja ATR/BPN, Perkuat Pelayanan Pertanahan yang Profesional dan Akuntabel

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 15:34 WIT

RSUD ELVRIDA SARA LANJUTKAN PROGRAM MAGANG TAHAP II DI RSUD MIMIKA, PERKUAT TRANSFORMASI MENUJU AKREDITASI

Jumat, 6 November 2026 - 12:51 WIT

Kapolda Papua Tengah Pimpin Aksi Green Policing di Nabire, Gandeng TNI, KKSS dan Masyarakat Bersihkan Lingkungan serta Tanam Pohon

Kamis, 5 November 2026 - 17:26 WIT

Pemberantasan Kejahatan Terus Digencarkan, Kejari Jayawijaya Musnahkan Barang Bukti dari 59 Kasus yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap

Kamis, 5 November 2026 - 16:58 WIT

Sekda Papua Pegunungan Buka Rakor DPRK Mekanisme Pengangkatan, Dorong Pengawasan Otsus dan Pengelolaan Dana yang Transparan

Kamis, 5 November 2026 - 16:46 WIT

Polres Jayawijaya dan Damkar Padamkan Kebakaran Rumah di Belakang Pasar Misi

Berita Terbaru