PMA dan PB FMI Teken MoU Tata Kelola Pendakian Cartenz Pyramid

- Penulis

Sabtu, 7 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Ketua Umum Papua Mountaineering Association (PMA), Maximus Tipagau, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia (PB FMI) dalam rangka memperkuat tata kelola pendakian Gunung Cartenz Pyramid di Papua. Penandatanganan MOU Kerjasama PB FMI & PMA berlangsung di Journey Caffee Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).

Penandatanganan MoU ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan sistem pengelolaan pendakian di salah satu gunung tertinggi dan paling menantang di dunia tersebut. Kerja sama ini mencakup aspek keselamatan pendakian, standar operasional pemanduan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar kawasan pendakian.

Ketua Umum PMA, Maximus Tipagau menegaskan bahwa Gunung Cartenz Pyramid merupakan bagian dari tujuh puncak tertinggi dunia (Seven Summits) yang memiliki daya tarik global bagi para pendaki mancanegara. Karena itu, pengelolaannya perlu dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.

“Cartenz Pyramid adalah kebanggaan Papua dan Indonesia. Kami ingin membawa Cartenz semakin dikenal dunia dengan tata kelola pendakian yang baik, aman, serta tetap menjaga kelestarian alam dan budaya lokal,” ujar Maximus.

Ia menegaskan kolaborasi ini sebagai “jembatan emas” untuk mengangkat harkat pegunungan Papua-terutama Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) dengan cara yang lebih bermartabat.

“Gunung tertinggi di dunia itu ada di Papua. Kami ingin perjalanan ke Papua menjadi sebuah pengembaraan yang humanis, bukan lagi pendekatan militer. Melalui PMA dan FMI, kami mendorong kehadiran Polisi Pariwisata yang telah disetujui oleh Bapak Kapolri. Ini adalah cara kita membangun kepercayaan dunia bahwa Papua adalah destinasi yang aman, sehat, dan berstandar global,” ujar Maximus.

Ia menambahkan ada tiga pilar utama yang dilakukan PMA untuk periode mendatang yakni melatih dan mencetak Orang Asli Papua (OAP) menjadi tenaga ahli mountaineering yang tersertifikasi internasional. Kemudian kedua menata objek wisata Jayawijaya agar lebih terjangkau, profesional, dan berdampak langsung pada ekonomi kerakyatan di Papua.

“Terakhir menjamin ketahanan fisik masyarakat lokal serta penguatan tim medical rescue evakuasi gunung yang mempuni (kesehatan dan rescue). Kedepan kita ingin membuat standar pendakian yang lebih terstruktur, termasuk peningkatan kompetensi pemandu lokal dan edukasi bagi pendaki terkait etika serta konservasi lingkungan,” pungkasnya.

Sementara Ketua Umum PB FMI, Mayjen TNI Mar (Purn). Buyung Lalana mengungkapkan, pentingnya standarisasi dan tata kelola yang baik dalam setiap aktivitas penataan alam.

“Kerjasama ini bukan sekedar pendakian, melainkan upaya bersama untuk memastikan ragam alam Indonesia (Nataraga) memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip Zero Accident dan zero waste”, ungkapnya ketika memberikan sambutan.

Ia menyampaikan penandatanganan kerjasama strategis ini menjadi tonggak penting dalam memaksimalkan potensi pengunungan dan bentang alam Indonesia sebagai pilar kesejahteraan rakyat. “Fokus utama dari kemitraan ini adalah sinkronisasi antara aktivitas Mountaineering yang profesional dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal disekitar kawasan pegunungan Nataraga:sinergi Alam dan kesejahteraan rakyat,” ucapnya.

Sedangkan Sekjen PB FMI, dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B., menambahkan bahwa fokus kemitraan ini adalah menciptakan ekosistem pendakian yang komprehensif. Keselamatan nyawa pendaki menjadi prioritas tertinggi melalui pengawasan ketat terhadap kesehatan dan standarisasi peralatan kelas dunia.

“Kami ingin meningkatkan kualitas pendaki nasional hingga memiliki sertifikasi yang diakui dunia. Dengan dukungan PMA, gunung-gunung di Indonesia akan bertransformasi menjadi laboratorium alam yang aman, bersih, dan membanggakan secara internasional,” ungkap dr. Iqbal.

Penulis : Gin

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Bupati Aletinus dan Wabup FGT Resmikan Puskesmas Muara, Pelayanan Kesehatan Kini Diperkuat di Wilayah Perbatasan Lanny Jaya
Detik-Detik Pesawat Caravan PK-LTF Keluar Landasan di Intan Jaya, Ban Diduga Terlepas Saat Menyentuh Runway dan Dua Penumpang Terluka
Polri Hadir untuk Masyarakat, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Serahkan Bantuan Sembako kepada Keluarga Korban Kebakaran di Distrik Muara
Maximus Tipagau Bantah Terlibat sebagai Penyelenggara Seminar Potensi Mineral dan Migas Papua, Perusahaan Minta Klarifikasi Terbuka
Wujud Kepedulian terhadap Pendidikan Anak Papua, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Turun Langsung Berikan Perlengkapan Sekolah kepada Siswa SD Negeri Mulia
Dari Pantai MAF, Polda Papua Tengah Perkuat Gerakan Peduli Lingkungan, Bersihkan Pantai dan Tanam Pohon
Perkuat Iman dan Integritas Pelayanan, Kantor Pertanahan Jayawijaya Gelar Ibadah Rutin Bulanan Persekutuan Doa Oikumene
Lewat Jumat Curhat, Kapolda Papua Tengah Dengarkan Keluhan Warga soal Narkoba dan Begal

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:21 WIT

Bupati Aletinus dan Wabup FGT Resmikan Puskesmas Muara, Pelayanan Kesehatan Kini Diperkuat di Wilayah Perbatasan Lanny Jaya

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:23 WIT

Detik-Detik Pesawat Caravan PK-LTF Keluar Landasan di Intan Jaya, Ban Diduga Terlepas Saat Menyentuh Runway dan Dua Penumpang Terluka

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:45 WIT

Polri Hadir untuk Masyarakat, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Serahkan Bantuan Sembako kepada Keluarga Korban Kebakaran di Distrik Muara

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:06 WIT

Maximus Tipagau Bantah Terlibat sebagai Penyelenggara Seminar Potensi Mineral dan Migas Papua, Perusahaan Minta Klarifikasi Terbuka

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:55 WIT

Wujud Kepedulian terhadap Pendidikan Anak Papua, Kapolres Puncak Jaya dan Bhayangkari Turun Langsung Berikan Perlengkapan Sekolah kepada Siswa SD Negeri Mulia

Berita Terbaru